Seandainya Suamiku…

Jarum jam di dinding terasa bergerak begitu lamban, dinginnya angin malam berlarian masuk kedalam rumahku, melalui jendela dan pintu dapur ruumah yang sedikit terbuka. Makanan di atas meja makan sudah mulai mendingin dan aku sepertinya tidak punya selera untuk menyantapnya. Sedang anak anakku sibuk bermain PS di ruang keluarga, aku sendirian di dapur, menunggu entah siapa, melamunkan entah apa.

Sekali lagi aku menatap keluar jendela, angin menerbangkan rambut hitamku dengan lembut. Diluar tampak mobil lalu lalang entah kemana, sekali2 ku dengar bunyik klakson, cukup riuh sebenarnya, tapi serasa sangat sepi bagiku. Continue reading

Advertisements

Rumor!

Rumor has it you love me
Rumor has it the world spins upside down
Rumor has it my only hope is you
And the rumors are true
I turn everything over

Begitulah lirik terakhir dari lagunya Switchfoot “I turn everything over“, membuatku kembali ke masa sekolah, tahun 1999, saat lagu itu pertama kali di dendangkan. Well bukan kisah cinta memang, tapi tentang asa dan pengharapan.

Tersebutlah si Zakir, teman sekelas yang hobi main gitar, tak ada waktu baginya selain untuk memeluk alat musik petik ini. Suaranya memang pas pasan, tapi petikan gitarnya bak professional. Walau dia tak pernah sekalipun belajar atau ikut les gitar, jadinya waktu istirahat lebih banyak di habiskan untuk main gitar, sembunyi sembunyi, biasanya dekat WC. Continue reading

Antara ngangkang dan rokok

Jauh memang korelasi antara ngangkang dengan rokok. Tapi melihat konsekuensi keduanya terhadap kesehatan, hal ini menjadi menarik.

Pertama masalah rokok, saya yakin tidak ada orang Indonesia yang tidak mengerti dengan kata dan benda ini, walau tidak menghisap langsung, minimal pernah cium asapnya, Ketika di Angkot misalnya.

Well, merokok sudah dianggap sebagai prilaku yang diterima. Jarang sekali orang yang komplain, bahkan banyak yang bangga bisa merokok. Seorang kenalan yang perokok berat bahkan pernah berujar, “semua pekerjaan ini bisa kubuat karena ada rokok, kalo gk ada rokok dimulut, gak akan bisa kerja”.  Di tempat lain, saya pernah membaca berita tentang seorang nelayan miskin yang juga seorang perokok, dan anaknya putus sekolah karena kurang biaya. Saat ditanya, kenapa dia tidak berhenti saja merokok sehingga uangnya bisa dipakai untuk biaya sekolah anaknya, sang bapak dengan enteng menjawab “lebih baik anak putus sekolah dari pada putus rokok di mulut saya”. egois? Hmmm Continue reading

“Orang dulu” memang hebat!?

Labi-labi arah seulimeum bergerak lamban meninggalkan kota Banda Aceh, tidak banyak penumpang di dalamnya, walau suasana sudah mendekati lebaran. Sejak beberapa tahun terakhir memang, hampir setiap orang memiliki sepeda motor sebagai alat transportasi, imbasnya, angkutan umum yang dulunya sempat menjadi primadona, kini mulai berkurang populasi dan peminatnya.

Seorang pria tua duduk di dalam angkutan tersebut, memakai sarung, baju putih panjang tangan, plus kopiah hitam menutup ubannya. Sekitar satu meter di sampingnya, sorang anak muda sibuk membaca catatan kuliah, mencoba konsentrasi, walau sekali-kali terganggu oleh goyangan labi-labi ketika melewati jalan berbatu yang tak kunjung selesai dikerjakan.

Tepat di depan anak muda, sorang wanita tua, penjual sayur di pasar, juga duduk dengan santainya, sebuah ranjang sisa jualannya terletak di lantai angkot, dalam jangkauan kakinya. Continue reading

Orang Gila Suara Merdu.

Orang gila suara merdu, begitulah judul video di youtube yang kini sedang heboh. Sejak di upload oleh akun ahmed79529 pada tanggal 3 bulan november tahun lalu, hingga tulisan ini saya tulis, video ini sudah di tonton lebih dari 670.000 kali. Cukup banyak untuk sebuah video yang di direkam dengan kamera handphone dan penyanyinya adalah orang yang sedang di rawat di rumah sakit jiwa.

Saya sendiri sudah melihat rekaman ini jauh sebelum video ini heboh. Karena selain ini, ada juga sebuah video yang di rekam di tempat yang sama, juga oleh mahasiswa keperawatan yang sedang praktik di RSJ Banda Aceh. Video yang saya maksud berjudul “Pidato lucu pasien RS Jiwa”.

Well, bagi kami praktisi kesehatan jiwa, kedua video tersebut bukan hal yang baru, toh pasien pasien kami sungguh lebih cerdas dan kreatif dari yang dikira oleh orang kebanyakan. Sering kami mendengar pasien berdendang, dengan suara yang jauh lebih baik dari boyband yang lagi naik daun. Saya sendiri pernah belajar bahasa Jepang dari seorang pasieng yang memang sarjana.

Kembali ke video tadi, sebenarnya, apa yang sedang di nyanyikan pasien tersebut? Yang jelas itu bukan lagu dangdut. Ada dua kemungkinan yang cocok untuk dialamatkan untuk nyanyian oleh pasien tersebut, pertama bisa disebut seulaweut, kedua bisa juga likee atau dikee.

Seulawet dan dikee merupakan media seni yang sudah terintegrasi dalam kehidupan masyarakat Aceh. Keduanya selain digunakan untuk berkesenian, juga sebagai media untuk mendidik agama bagi generasi muda. Seulawet atau selawat mungkin sudah lebih banyak orang kenal, adalah puji pujian hamba untuk sang khalik dan kekasihnya muhammad. Dalam masyarakat aceh, seulawet umumnya diciptakan oleh para ulama, dengan irama yang khas, dan kemudian menyebar dari mulut ke mulut. Seulawet ini sering dibawakan dalam bahasa Arab, Aceh atau melayu Aceh, sepengetahuan saya, belum ada buku yang secara khusus menuliskan tentang berbagai nama, lirik dan jenis seulawet yang tersebar di Aceh, sebuah tantangan baru untuk generasi muda Aceh tentunya.

Yang kedua adalah dikee, mirip seperti seulawuet, dikee juga puji pujian kepada pencipta dan juga media dakwah untuk mendidik agama islam bagi anak muda aceh. Dikee ini akhir akhir ini sudah sering di perlombakan.

Nah, video yang dinyanyikan pasien tersebut adalah salah satu diantaranya yang bertujuan untuk mendidik anak anak agar mudah mengingat nama nama nabi dalam islam beserta dengan keistimewaannya masing masing. Dengan bentuk nyanyian seperti ini, akan mudah bagi kita untuk mengingat dibandingkan dengan menghafal seperti textbook. Selain nyanyian dalam irama ini, ada beberapa irama lain lagi yang digunakan untuk mengingat para nabi dan rasul

Terakhir, dengan hebohnya video ini, saya berharap agar masyarakat umum tidak lagi menganggap remeh orang dengan gangguan jiwa. Jika saja keluarga mau sedikit perhatian dan masyarakat tidak mengejek-ejek mereka, mereka pasti bisa berkreasi dengan lebih baik diluar sana.

Satu hal lagi, saya juga berharap ada yang mau mengarasemen ulang syair yang indah ini. selain bermanfaat bagi ummat (karena mengenalkan media yang indah untuk mengingat para rasul), syair ini juga indah untuk hiburan. semoga..

Salam

Mörsalin, Praktisi kesehatan jiwa Aceh,
Berlin 8.5.12

Berikut video di youtube

orang gila ceramah

Pengakuan sang Buaya Darat

SONY DSCMakhluk yang bernama perempuan itu hampir tak ada yang tak senang dengan yang namanya pujian, walau sering pujian itu hanya godaan iseng para buaya pencari aktualisasi diri. Belum pernah kutemui seorang wanitapun yang tak senang jika di bilang manis, cantik, baik hati, dan sebagainya. Belum pernah kutemui seorang dara pun yang tak “meugeudham” hatinya ketika ada lelaki yang memujinya, walau bicara isi hati adalah bicara rahasia diri, yang hanya si empunya dan empu-Nya sahaja yang tahu, tapi setidaknya kulihat raut wajahnya berubah setelah mendengar pujian itu. Mungkin yang pernah kutahu adalah perkataan seorang jilbaber yang mengaku tidak suka kalau dibilang manis, tidak suka di puji dan sebagainya, tapi begitu kameraku kusetel “on”, dia pun beraksi bak model iklan terasi yang sangat ahli, ada beda? Continue reading

Jika Ali Hasjmy masih muda!

Majalah yang terletak diatas meja di pojok ruang makan kini berada dalam jangkauan bacaanku. Kulihat judul, aku tak mengenalnya, tapi dari gambar cover dan nama majalah, aku coba tebak kalau itu adalah majalah remaja. Rasa malas dan rasa lapar kini bersekutu dalam tubuhku, tapi masih kupaksakan tanganku untuk membuka lembaran majalah itu satu persatu, dugaanku benar, tipikal majalah remaja, lebih banyak gambar dari pada informasinya. Dari daftar isi yang kulihat, informasinya bukan untuk golongan usiaku, tapi, sambil menunggu makananan datang, tak ada salahnya kemalasanku kutumpahkan dengan membolak balik halaman majalah itu.

Rasa malasku perlahan keluar dari tubuhku, setelah kulihat setiap judul tulisan dimana nama penulis dan umurnya juga disertakan, aku jadi tertarik. Aku salut dengan usia rata-rata penulis yang masih remaja, ada yang 16 tahun, 18 tahun dan sepertinya yang paling besar masih 25 tahun, tidak begitu kupastikan, yang pasti mereka masih muda-muda. Redaktur dan ilustratornya juga rata-rat anak sekolahan. Wah, hebat sangat. Aku kagum, rupanya anak muda sekarang justru jauh meninggalkan kami generasi setengah tua. Continue reading