Seandainya Suamiku…

Jarum jam di dinding terasa bergerak begitu lamban, dinginnya angin malam berlarian masuk kedalam rumahku, melalui jendela dan pintu dapur ruumah yang sedikit terbuka. Makanan di atas meja makan sudah mulai mendingin dan aku sepertinya tidak punya selera untuk menyantapnya. Sedang anak anakku sibuk bermain PS di ruang keluarga, aku sendirian di dapur, menunggu entah siapa, melamunkan entah apa.

Sekali lagi aku menatap keluar jendela, angin menerbangkan rambut hitamku dengan lembut. Diluar tampak mobil lalu lalang entah kemana, sekali2 ku dengar bunyik klakson, cukup riuh sebenarnya, tapi serasa sangat sepi bagiku. Continue reading

Advertisements

“Orang dulu” memang hebat!?

Labi-labi arah seulimeum bergerak lamban meninggalkan kota Banda Aceh, tidak banyak penumpang di dalamnya, walau suasana sudah mendekati lebaran. Sejak beberapa tahun terakhir memang, hampir setiap orang memiliki sepeda motor sebagai alat transportasi, imbasnya, angkutan umum yang dulunya sempat menjadi primadona, kini mulai berkurang populasi dan peminatnya.

Seorang pria tua duduk di dalam angkutan tersebut, memakai sarung, baju putih panjang tangan, plus kopiah hitam menutup ubannya. Sekitar satu meter di sampingnya, sorang anak muda sibuk membaca catatan kuliah, mencoba konsentrasi, walau sekali-kali terganggu oleh goyangan labi-labi ketika melewati jalan berbatu yang tak kunjung selesai dikerjakan.

Tepat di depan anak muda, sorang wanita tua, penjual sayur di pasar, juga duduk dengan santainya, sebuah ranjang sisa jualannya terletak di lantai angkot, dalam jangkauan kakinya. Continue reading

Gombal gombalan Islami 1

“Dek, tau gak kenapa abang memilih adek sebagai istri?“
“Enggak, emang kenapa bang“?
“Karena adek cantek“
“Bukannya cantek itu seharusnya urutan nomor tiga bang?“
“Iya, abang tau, tapi abang kan ingin jadi imam shalat“?
“Emang apa hubungannya istri cantek dengan jadi imam bang“?
“Karena jika ada orang laen yang ilmu agama dan kemampuan tilawah sama persis seperti abang, maka yang dipilih jadi imam adalah siapa yang istrinya paling cantek“ 😀

Berlin, 22.06.12
Inspirasi dari hasil diskusi di dapur sambil masak dengan seorang kawan yang akan segera menikah tadi siang. Plus ilmu lama yang sempat terekam dari hasil nongkrong di pengajian Zauyah Tanoh Abee!

Pengakuan sang Buaya Darat

SONY DSCMakhluk yang bernama perempuan itu hampir tak ada yang tak senang dengan yang namanya pujian, walau sering pujian itu hanya godaan iseng para buaya pencari aktualisasi diri. Belum pernah kutemui seorang wanitapun yang tak senang jika di bilang manis, cantik, baik hati, dan sebagainya. Belum pernah kutemui seorang dara pun yang tak “meugeudham” hatinya ketika ada lelaki yang memujinya, walau bicara isi hati adalah bicara rahasia diri, yang hanya si empunya dan empu-Nya sahaja yang tahu, tapi setidaknya kulihat raut wajahnya berubah setelah mendengar pujian itu. Mungkin yang pernah kutahu adalah perkataan seorang jilbaber yang mengaku tidak suka kalau dibilang manis, tidak suka di puji dan sebagainya, tapi begitu kameraku kusetel “on”, dia pun beraksi bak model iklan terasi yang sangat ahli, ada beda? Continue reading

Kisah Romantis :D

Sepasang remaja sedang memadu kasih di bibir sebuah sungai airnya mengalir jernih..

Dan terjadilah rayuan dahsyat ini!

Cowok: adekku sayang, nanti abang buat istana khusus buat adek, desainnya abang buat sendiri special, warnanya kuning semua, seperti warna kulit dan gigi adek…nanti abang bangun 7 kamar, so tiap malam kita ganti2 kamarnya biar tidak bosan, lantai ruang makannya dari kaca, di bawahnya langsung danau ini, percikan cahaya bulan akan menbuat suasana makan malam kita selalu romantis.

Cewek: “dapurnya gimana bang?

Cowok:, dapurnya juga dekat dengan ruang makan, langsung diatas danau ini, desainnya abang ambil gaya eropa, mau kan?

Cewek: mau donk abang sayang, trus kalau kamar mandinya?

Cowok: oh, kalau itu abang desain gaya tradisional, nanti kamar mandinya langsung ke danau ini, dari dapur, adik bisa langsung mandi ke danau…airnya kan bersih, suci, sesuci cinta abang ke adik….(kecuali kalau lagi musim hujan, airnya keruh…-red)

Cewek: wow…romantis sangaaat…I loop yu bang..trus trus trus…kalau WC nya bang?

Cowok: itu sepaket dengan dapur dek, gaya tradisonal juga, pakai WC cemplung, romantis kan?

Cewek: kok begitu? Gk mau la…

cowok: sebenarnya abang ingin buat WC gaya Australia, tapi uangnya udah abis buat bayar angkot kita kemari tadi…

cewek: trus, kita pulangnya gimana donk bang sekarang?

Cowok: jalan kaki donk say!…………kan seperti tulisan di belakang truk abang : bersama 17-an.

Cewek: #$^&&%$#$$$$#@@#$%^&&!!!!!!!

sekian 😀

Namaku Ismi, Aku Perawan Tua (Bagian 1)

“Si mila ka na ureung lake hai nyak, mak jih peugah lheuh haji acara”, ibuku berkata pelan tanpa menoleh ke aku, ia sibuk menggiling bumbu kuah di bate gileng* di sudut dapur rumah kami.

“Alhamdulillah lah mak, si mila yg saboh glah ngen ismu kan?”

“ya, toh sit laen, sit saboh mila di gampong tanyoe, aneuk yahwa gani”,…//senyap//,

“nyak maneh kana cuco lom, lon leh pajan” ibuku menyambung, suaranya serak, baru kali ini aku mendengar beliau menyebutkan tentang cucu, aku sangat kaget, tapi mencoba untuk tetap tenang.

Sekali lagi aku menoleh ke beliau, anggukannya seirama dengan putaran ’batee peh”, kulihat beliau menaikkan ujung jilbab yang kadang-kadang jatuh. ibu sudah tua rupanya.

Susasana kembali sepi, tak ada suara yang keluar dari mulut kami, hanya bunyi gesekan batee peh asam dan bunyi gorengan di depanku, bunyi ayam berkokok atau bunyi burung yang berterbangan dari pohon ke pohon di belakang rumah kami hanya muncul sesekali. Sisanya adalah sunyi!

“Mak, dek is na dikirem pesan?“ aku coba mengalihkan pembicaraan. Baca Kelanjutannya

The Drama Of Acehnese History 1873-1878 by Hasan Tiro

The Drama Of Acehnese History 1873-1878, begitulah judul drama yang ditulis oleh Alm Hasan Tiro.

Naskan ini tersimpan di sebuah perpustakaan di eropa, lengkap dengan berbagai surat politik yang ada di dalamnya. saya sendiri lebih menikmati drama ini sebagai sebuah karya seni yang bermuatan, sejarah. walau belum seluruhnya saya baca, namun beberapa diantaranya cukup menarik.

Berikut merupakan bagian dari Act I

ACT I
Scene 1
Music: Johan Sebastian Bach, Brandenburg Concerto
At Kuta Radja, 1873. The Council of State in session. Prominent display of the flag of Acheh, large framed paintings of Iskandar Muda, Aly Mughayat Shah, Safiatuddin and other Achehnese historic figures. The wall map of Acheh covering Sumatra, the Malay Peninsula, V/est Borneo and Banten, West Java. Members are busy talking to each other – all wearing splendid Achehnese costume.

Guard :
“His Majesty Sultan Alaeddin Mahraud Shah I” Baca Kelanjutannya