Ditegur Opa-Opa Belanda

Maastricht – Belanda musim panas 2007

Aku baru beberapa minggu berada di kota yang berbatasan dengan Belgia dan Jerman ini. Sebagai pendatang baru dibenua Eropa, banyak sekali kebiasaan masyarakat setempat membuatku terasa asing. Mulai dari kebiasaan mereka yang suka “gaduh” saat akhir pekan, hingga masalah budaya yang sudah tentu  saja sangat berbeda dengan kampungku di kaki gunung seulawah.

Hari itu kuliah dicukupkan setelah sang profesor mendapatkan komentar dari kami semua mengenai buku yang baru di tulis dan dipublikasikanya, seminggu lalu memang dia meminta kami untuk mengkritik dan mencari kesalahan dari buku tersebut, keder rasanya ketika harus memberikan komentar kepada profesor kelas dunia yang juga mantan dekan sebuah univeritas yang masuk peringkat 100-an dunia. Continue reading

Advertisements

Maastricht, Kesan Pertama Benua Biru

maastrichtMusim panas 2007, pertama kali tiba di Eropa, tepatnya Negara Belanda, saya lumayan “terkejut” dengan budaya atau kebiasaan yang mungkin sedikit “aneh” yang belum pernah saya alami di negara dan kota saya berasal. Saya tiba di negera tulip itu di waktu pagi, masih dingin, sedikit berkabut dan saya sendirian, tidak punya teman. Sebentar transit di Amsterdam, perjalanan langsung di kota tujuan saya, Maastricht.

Tiba disana sudah lewat zuhur, karena masih buta dengan kota dan tidak punya teman seorangpun, saya memilih taksi untuk mengantar ke studenthuis  yang sudah duluan saya book saat masih di negeri sendiri.

Hanya beberapa menit, saya sampai di sebuah gedung yang lumayan mewah untuk disebut sebagai “asrama mahasiswa”.  Untuk pertama kali juga, beberapa Euro berpindah tangan dari kantong saya ke supir taksi yang cukup bangga bercerita tentang kota keramik ini. Continue reading