Seandainya Suamiku…

Jarum jam di dinding terasa bergerak begitu lamban, dinginnya angin malam berlarian masuk kedalam rumahku, melalui jendela dan pintu dapur ruumah yang sedikit terbuka. Makanan di atas meja makan sudah mulai mendingin dan aku sepertinya tidak punya selera untuk menyantapnya. Sedang anak anakku sibuk bermain PS di ruang keluarga, aku sendirian di dapur, menunggu entah siapa, melamunkan entah apa.

Sekali lagi aku menatap keluar jendela, angin menerbangkan rambut hitamku dengan lembut. Diluar tampak mobil lalu lalang entah kemana, sekali2 ku dengar bunyik klakson, cukup riuh sebenarnya, tapi serasa sangat sepi bagiku. Continue reading

Advertisements

Selamat Jalan Guru Kami*

Sebuah Catatan!

Oktober 1998, Bed Merah!

Lelaki paruh baya itu berdiri didepan kami, dia melempar senyum ke penjuru kelas, kami hanya terdiam. Bajunya rapi, sepatunya hitam mengkilat, rambut belah tengah – sedikit kesamping membuat kesan lelaki layak di hormati.

“combustio, ini artinya luka bakar”, sebutnya sambil menulis “combustio” di papan putih depan kelas. “kalau commotio cerebri, itu artinya geger otak”, sebutnya lagi sambil kembali menulis. Ketika bebalik menghadap ke kami, ibu jari dan jari telunjuknya menghapus pinggir mulutnya, perilaku yang sangat identik dengannya.

Combustio dan commotio cerebri, itulah dua kata yang saya ingat setelah beberapa lama belajar di sekolah perawat, kedua kata kata tersebut masih terekam jelas hingaa sekarang. Setiap membaca atau mendengat kedua kata tersebut, saya langsung teringat dengan lelaki yang menjelaskan makna kata tadi, puluhan tahun lalu. Continue reading

Alhamdulillah, Kawan Saya Jadi Muallaf

Hey Tunis, how are you? Are you still in Berlin? I’m also here right now! We could meet for dinner today or meet tomorrow sometimes for coffee? We’ll leave on Monday morning, see you soon? Andy!

Andy sedang melihat rute yang baru saja kami jalani di Ulriken

Andy sedang melihat rute yang baru saja kami jalani di Ulriken

Begitu pesan panjang masuk ke Line beberapa hari lalu, melihat nama yang tertera, tidak susah bagi saya untuk menebaknya walau sudah beberapa bulan kami tidak bertegur sapa.

Hi Andy, sorry but I am not in Berlin, begitu jawab saya singkat dan langung dibalasnya “oh.. that is so bad”. Saya kemudian menjelaskan dimana posisi saya dan percakapan berlanjut mengenai masalah kuliah, kerja dan penelitian yang kami lakukan. Dari percakapan, dia mengaku hanya liburan singkat Berlin, dan akan kembali ke kampungnya di swiss dua hari kemudian.

Ketika chatting kami akan berakhir, saya menitip salam buat calon suaminya yang sebelumnya sudah saya tahu berasal dari sudan dan seorang muslim. “please say my salam to your husband”.

Mendapat pesan seperti ini, buru buru dia balas “future husband ;)” dan lagi lagi saya balas dengan canda “whatever :)”.

“important difference 🙂 , balasnya, saya hanya menjawab dengan tawa. Kemudian dia menambahkan “I am now somehow your sister ;), I converted :))

Mendapatkan informasi seperti itu langsung saja kata ALHAMDULILLAH besar besar saya tulis, sangat senang bahkan hampir tak percaya,

“Even did my shahada last week to have a paper to visit saudi arabia, his brother lives there, but converted sometimes ago”, kembali dia menjelaskan. Kini jelas bahwa dia tidak sedang bercanda, karena Andy yang saya kenal biasanya sangat periang dan kadang kelewat ngelawaknya.

Andy pakai Jaket biru, kali ini saya yang ambil fotonya

Andy pakai Jaket biru, kali ini saya yang ambil fotonya

Namanya Andrea, lengkapnya Andrea Bärloc…. (edited), saya mengenalnya beberapa tahun lalu di Bergen, Norwegia, saat itu dia mewakili kampusnya di Swiss, sedangkan saya tentu mewakili tempat belajar saya di Berlin. Walau perkenalan saya dengannya singkat, banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari dia. Ketika kami jalan naik ke gunung Ulriken untuk menikmati pemandangan salju dari atas, berbagai cerita mengenai sistem kesehatan di negaranya diceritakan, misalnya seorang kehilangan pekerjaan atau punya masalah fisik (atau mental), maka apa saja yang dilakukan pemerintah. Begitu juga dengan sistem pendidikan dan pembiayaan kesehatan. Tersadar bahwa negara sangat baik melayani rakyatnya.

Pada kesempatan lain, kami juga sempat berdiskusi tentang agama, dan dari dialah pertama kali saya mendengar istilah “rabbatul bait” atau ratu nya rumah, istilah dalam bahasaya yang berarti ibu rumah tangga. Kisah ini sudah saya tuliskah di blog ini.

Sungguh islamnya Andy bukan hal yang mengejutkan, bukan juga karena ia ingin menikah dengan orang islam, tapi memang dari lama dia telah mempelajari islam itu sendiri, hanya saja hatinya baru benar-benar terbuka sekarang. Alhmdulillah,

Setelah diskusi kami sudahi, sempat terlintas dalam benak saya, kenapa bukan saya saja yang mensyahdat kan si Andy? Kenapa harus orang lain? Tapi kemudian jawaban langsung muncul didepan saya, dengan sebuah pertanyaan juga, “saya sendiri, se-islam apakah saya sekarang ini? Apakah saya sudah layak mensyahdatkan orang lain? atau harus melakukannya untuk diri saya sendiri dulu?”

Semoga kita bisa benar benar memahami islam, setidaknya seperti yang dilakukan andy, Meine schwester aus Schweiz!

Singa yang Pemarah, Elang yang Rakus dan Merpati yang Baik Hati

Di sebuah hutang yang lebat, tiga anak singa saling bercengkarama, saling berkejaran, katanya ini adalah proses belajar mereka. Sementara sang induk sedang pergi mencari mangsa, mereka sudah lama lapar, tidak makan daging. Walau mereka kadang bergelut, tak ada cakar yang keluar dari kaki, tak ada taring yang dipakai untuk melukai saudaranya. Mereka benar benar senasib, lahir dari induk yang sama, berusia sama, dan sedang mengalami perasaan yang sama, lapar.

Beberapa saat kemudian, sang induk pun pulang dengan seekor bangkai ayam dimulutnya? Ketiga anaknya mendekat, melompat dan melahap makanan yang ada di depan mereka. Saat makanan tiba, sifat mereka berubah total, dari sebelumnya yang tampak lucu dan bersahabat, kini menjadi buas dan rakus. Tidak hanya terhadap lingkungan mereka, terhadap sesama saudara sendiri mereka sudah mulai cakar cakaran, mulai bermusuhan. Makanan rupanya mengubah sifat dan perilaku anak anak singa ini.

Melihat keganasan anak anak singa ini, binatang yang tinggal di hutan mulai khawatir, lari menjauh, takut menjadi korban. Bahkan burung burung yang sedang hinggap diatas pohon juga harus mengambil sayap seribu, terbang secara bersamaa saat auman singa memecah kesunyian hutan.

Diatas pohon tak jauh dari tempat ketiga anak singa yang sedang berjuang untuk mengisi perut, seeokor induk elang sedang menasehati anak daranya. “nak, jangan sekali kali kamu rakus seperti ketiga anak singa dibawah, kamu tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri, kalau kamu mencari makan, maka perhatikan sekeliling, jangan hanya makanan, jangan ambil sesuatu yang tidak mungkin atau yang bukan milik kamu, karena kalau kamu rakus dan mecari makan tanpa menghiraukan lingkungan, kamu akan kualat dan hanya manjadi tatapan serta ketawaan anak kecil”, nasehat sang ibu elang yang hanya dijawab dengan diam oleh sang anak.

Waktupun berlalu, anak anak singa mulai besar, mereka mulai hidup berpencar, memilih untuk hidup sendiri, demi memperoleh porsi makanan yang lebih besar. Begitu juga dengan anak elang, kini ia sudah merantau ke negeri lain, jauh dari sang induk, untuk mencari hidup yang lebih layak.

Suatu hari, elang sedang melintas diatas hutan lebat, dengan kelebihan penglihatan yang ia miliki, ia dapat melihat anak-anak burung pipit ditinggal bertiga, induk pipit sedang mencari makan. Karena memang kebiasaan burung pipit suka membuat membuat sarang lebih dekat dengan tanah, hanya burung elang yang bisa melihat dari atas, melewati rimbunan daun pohon pohon yang tinggi. Merasa ini adalah santapan yang paling pas, dia hanya butuh dua kali berkeliling, dan langsung menarik sayap untuk menungkik tajam ke arah sarang burung pipit, tanpa menghiraukan lebatnya daun dan ranting pohon yang harus dilewati untuk menuju ke sarang burung pipit, nasehat ibunya ia lupakan, dan ia kena getahnya. Beberapa meter sebelum mencapai sarang burung pipit, sayap burung elang ini tersangkut di ranting pohon, ia terkunci, tak bisa bergerak sama sekali.

Beberapa saat kemudian, anak anak manusia yang tinggal dekat hutan sedang mencari buah buahan, dan menemukan elang yang tersangkut ini, mereka membawa pulang si elang dan memasukkannya ke dalam sangkar, menjadi tontonan.

Jauh dari kehidupan si singa dan si elang, keluarga besar merpati tinggal di belakang rumah manusia, dalam sebuah kandang besar yang terpaku pada batang pohon. Disana mereka hidup bersama, mulai dari nenek hingga cucu, tak ada pertengkaran. Saat sang induk membawa pulang makan, sang anak hanya membukan mulut agar makanan itu mudah dimasukkan kedalam mulut oleh induknya, kemudian mereka kembali berkicau, apa itu dalam keadaan kenyang atau lapar, mereka tahu bahwa dengan berkicau, mereka sedang menghibur manusia yang tinggal diseberang. Sang ibu merpati hampir tak pernah menasehati anaknya, tapi dia memberikan contoh kepada generasinya. Ia tahu, anak kecil bukan hanya untuk dinasehati, tapi  yang paling penting adalah untuk diberikan contoh.

Singa singa yang  merasa merekalah yang paling kuat, sehingga berani hidup sendiri kini mulai harus menghadapi predator yang lebih rakus dibandingkan mereka yaitu manusia, begitu juga dengan sang elang yang harus menjadi tontonan dan tinggal dalam sangkar sepanjang hidupnya. Gelar penguasa udara juga harus dicabut karena dalam sangkar, jangankan untuk terbang, untuk merentangkan sayapnya ia tak bisa. Sedangkan merpati dapat terus hidup tentram, berkicau dan terbang bebas hingga akhir hayatnya.

 *) Cerita ini di tulis ulang berdasarkan ceramah jumat di mesjid lambhuk kemarin, dengan beberapa tambahan bumbu tentunya.

Asam Urat: Penyakit orang kaya

“Suddenly suffering with the rich man’s disease”, begitulah status yang saya tulis di facebook kemarin sore, setelah rasa nyeri akut menyerang sendi pangkal jempol kaki saya. Meski inilah kali pertama saya menderita penyakit ini, tidak butuh waktu lama untuk menentukan nama diagnosa penyakitnya, selain memang kami punya riwayat keluarga, gejala serangan akutnya juga khas: menyerang sendi di extremitas bawah, terjadi pembengkakan, kemerahan suhu naik dan nyeri yang sangat.

The Gout by James Gillray. Published May 14th 1799. sumber wikipedia

The Gout by James Gillray. Published May 14th 1799. sumber wikipedia

Kalau dua jam sebelumnya saya bisa berjalan normal, setelah serangan nyeri ini, praktis saya susah untuk berjalan, atau jalannya sudah mulai terpincang pincang. Alhadil mobilisasi saya mulai terbatas karena rasa nyeri hebat ini.

Gout atritis, begitulah nama medis untuk penyakit yang sering orang awam sebut dengan asam urat. Benar memang karena jika darah diperiksa, maka kadar uric acid nya meningkat lebih dari batas normal

Secara statistik katanya penyakit ini diderita oleh sekitar 2% dari populasi, yang berarti selain saya dan seorang lagi yang saya tak kenal, 98 orang lain terbebas dari penyakit yang sudah ada sejak2500 tahun silam. Namun data 2% ini adalah pada masyarakat barat, sedang di Indonesia umunya atau di Aceh khususnya, saya yakin angkanya lebih tinggi.

Penyakit ini 12% disebabkan oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat, termasuk didalamnya pola makan yang tidak teratur. Gaya hidup sedentari terjadi saat seseorang kurang bergerak, kurang olah raga, hanya duduk duduk saja dan sebagainya. Pola makan yang asal masuk, banyak lemak tidak sehat dsb juga menjadi pendukung munculnya penyakit ini. Sedangkan 60% lagi disebabkan oleh faktor keluarga atau keturunan. Sama seperti kasus saya dimana memang ada keluarga kami yang menderita penyakit ini, jadi tidak heran dan tidak mengejutkan saat saya diserang si penyakit kemarin sore.

Untuk pengobatan, sebaiknya konsultasikan ke dokter, jika serangan nyeri tiba-tiba, misal tengah malam, bisa minum obat anti nyeri seperti paracetamol, asam mefenamat dsb, sedang untuk obat goutnya haru ke dokter. Tanpa pengobatan, serangan sakit  ini akan berkurang dengan sendirinya setelah 7 hari. Dengan pengobatan biasanya akan lebih cepat serta prognosisnya lebih baik.

Oh ya, penyakit ini dikenal juga sebagai penyakit orang kaya atau penyakit para raja karena memang sejak didokumentasikan pertama kali di mesir kuno tahun 2500 sebelum masehi, juga pada zaman hipokrates (400 SM), penyakit ini lebih sering menyerang orang kaya atau para raja yang memang banyak uang. Alasannya mungkin bisa dihubungkan dengan kebiasaan makan para orang kaya saat itu yang tidak jauh berbeda dengan pola makan orang kita saat ini, apalagi dimusim maulid atau musim orang nikahan seperti beberapa bulan terakhir ini.

Nah, kalau sudah nyeri seperti ini, rasanya saya tidak mau jadi orang kaya, mending jadi orang biasa saja yang penting bahagia dan tidak banyak sakitnya.

Selingkuh dengan si Heizung

Sabtu kemarin, seharian penuh saya memilih untuk tinggal didalam rumah, tidak keluar sama sekali, tidak juga ke toko turki langganan beli roti buat sarapan tiap hari. Alasannya Cuma satu, suhu udara di Berlin hari itu adalah minus 13 °c. Lebih lengkapnya, di aplikasi cuaca di hape saya tertulis suhu -13°C dan rasanya seperti -20°c, memang benar adanya, suhunya memang minus 13 tapi rasanya seperti dikurung dalam kulkas. Continue reading

Ternyata, yang berhati mulia itu masih ada

Pulang dari kantor tadi udah agak sore, saya mencoba memacu sepeda motor buntut saya sedikit kencang, selain karena  ujan rintik yang mulai melebat, saya teringat pada sebuah baju dinas dijemuran yang saya jemur tadi pagi sebelum berangkat ke kantor.

Kalau sempat baju di jemuran itu basah, matilah saya, karena besok ke kantor saya harus menggunakan seragam tersebut.

Dan setelah tiba di rumah kontrakan, saya basah kuyup, tanpa masuk ke dalam rumah dulu, saya langsung ke belakang dimana jemuran itu terletak, alangkah kagetnya saya karena baju seragamnya tidak ada di gantungan, dibawa anginkah? Atau ada maling jemuran mungkin? Wallahu a’lam. Continue reading