Surat Keterangan Berkelakuan Baik di Jerman: Ngurusnya Gampang

Jika sebelumnya saya pernah cerita tentang gampangnya mengurus surat pindah rumah atau mengurus listrik di Jerman, kali ini saya punya pengalaman baru, membuat surat keterangan berkelakuan baik (SKKB). Surat ini kadang diminta saat kita melamar pekerjaan, atau untuk ururusan akademis, seperti pada kasus saya. Nah, dalam bahasa Jerman SKKB ini disebut dengan Führungszeugnis, cara bacanya juga sama seperti tulisannya. Ketika saya diberitahu untuk melengkapi dengan surat ini oleh pihak kampus, awalnya batin saya sempat protes, salah apa saya? Belum sempat saya bertanya, si mbak bule di kantor Promotionsbüro sudah duluan menjelaskan, “ini hanya formalitas saja, kami tahu kamu gak punya masalah, tapi ya memang harus dibuat” sebutnya disertai sebuah senyuman manis yang…..(udah, udah punya istri..)

Continue reading

Advertisements

Pengalaman Sewa Rumah di Jerman

Jika di Indonesia kita biasanya mengandalkan kawan atau kenalan saat mau cari rumah sewa, di Jerman akan lebih mudah jika kita menggunakan media internet. Banyak sekali website yang bisa kita gunakan. Informasi harga, ukuran rumah serta jenis kontrak biasanya jelas tertulis disana. Tapi banyaknya rumah yang disediakan bukan berarti mudah untuk mendapatkan rumah sewa, mudah sih, tapi sering biaya sewanya sangat mahal untuk ukuran pendatang dari negara berkembang seperti Indonesia. Jika rumah yang ditawarkan pas dengan budget, biasanya langsung deal. Tapi sering kita harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan rumah idaman yang murah meriah. Continue reading

BBQ ala Indonesia di Berlin

image

Sebelum ke Eropa, saya belum pernah mendengar kata kata barbeqeu atau disingkat BBQ. Waktu di Belanda dulu, ada kawan mengajak untuk BBQ di rumahnya, cuma karena tidak tahu apa itu BBQ, akhirnya saya menolak ajakannya dengan halus. Saat itu saya kira BBQ itu semacam pesta gimana gitu. Pulang ke rumah, saya mencari di internet, rupanya BBQ itu tidak lebih dari acara bakar bakar daging untuk disantap. Kalau ini mah kami sudah rutin melakukan bakar ikan sejak masih kuliah dulu.

Continue reading

Puasa Hemat ala Mahasiswa Indonesia di Eropa

Jika di Indonesia kita menghabiskan lebih banyak uang untuk belanja kebutuhan buka puasa dan sahur selama bulan ramadhan, kenyataan sebaliknya justru terjadi pada kami mahasiswa di Eropa. Selama bulan ramadhan, praktis kami mengeluarkan uang yang jauh lebih sedikit dibandingkan bulan bulan sebelumnya, karena hampir semua kebutuhan makan dan minum bisa kami peroleh secara gratis, bagaimana bisa?

Jawabannya: Rajin rajinlah ke mesjid

Al falah 1Hampir di semua mesjid di Eropa, baik Jerman, Belanda dan juga, menurut informasi kawan, di Perancis, selama bulan puasa mereka memberikan bukaan gratis kepada semua jamaah yang shalat magrib di mesjidnya. Menunya pun beragam, umumnya berdasarkan negara asal para pengurus mesjid. Di Mesjid Turki misalnya, makanan yang disediakan hampir semuanya ala Turki, begitu juga dengan mesji Maroko atau Libanon, makanannya disesuaikan dengan lidah mereka.

Bagaimana jika ingin menyicipi makanan ala Indonesia? di Mesjid al Falah Berlin anda bisa memperolehnya. Hampirs setiap hari (kecuali hari jumat), mesjid Indonesia di Berlin ini menyediakan makanan buka puasa untuk seluruh jamaahnya. Tidak hanya saat buka puasa, saat sahur mesjid ini juga menyediakaan makanan untuk jamaah yang datang kesana. Jamaahnya tentu di doninasi oleh mahasiswa pencari makanan gratis seperti saya.

Karena Indonesia sangat kaya dan pengunjung mesjid juga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, menu yang disediakan juga sangat beragam, dan berasal hampir di semua daerah di Indonesia. Sayangnya hingga saat ini saya belum pernah mencicipi mie Aceh di mesjid ini.

Namun karena letak tempat tinggal yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya di Kreuzberg, sedangkan mesjid al Falah lokasinya di Alt-Moabit, saya lebih sering memilih untuk berbuka di Mesjid Turki yang letaknya hanya 300 meter dari tempat tinggal saya. Disana saya berbaur dengan jamaan berbagai negara, tetapi umunya orang Turki dan muslim dari afrika. Mesjid langganan saya ini adalah fatih kultur haus, meski berlabel kultur haus atau rumah budaya, bangunan ini lebih banyak difungsikan sebagai sebuah mesjid, sama seperti mesjid Alfalah yang masih berstatus sebagai sebuah e.V ., atau lengkapnya IWKZ eV (Indonesisches Weisheits – und Kulturzentrum, e.V.). Kenapa harus rumah budaya atau pusat budaya, tidak langsung menyebut mesjid, nanti kita diskusikan masalah ini di tulisan lain.

Al afalah 2

suasana berbuka di mesjid al falah

Balik lagi ke buka puasa gratis. Di Mesjid Turki langganan saya, biasanya jamaah sudah berkumpul beberapa menit sebelum masuk masuk waktu magrib. Begitu azan akan dikumandangkan, panitia biasanya membagikan sebutir buah kurma pada semua jamaah, dan langsung di lanjutkan dengan shalat magrib. Selesai magrib baru semua jamaah turun ke lantai bawah yang merupakan kantin untuk makan buka puasa. Lain halnya dengan kebiasaan di mesjid indonesia, dimana kita biasanya berbuka dengan bubur atau kolak, kemudian shalat dan setelah shalat baru makan makanan “berat”.

Perbedaan yang saya rasakan antara berbuka dengan mesjid Indonesia dengan mesjid Arab-Turki lain di Jerman adalah, jika di mesjid Indonesia, menunya pas, sesuai dengan lidah kita, tetapi jumlah makanan yang tersedia sering pas-pasan mengingat banyaknya jamaah berbuka puasa. Sebaliknya di mesji Arab atau mesjid Turki, menunya biasanya pas-pasan dengan lidah saya, tapi jumlahnya di jamin jauh lebih banyak karena mengikuti porsi makan orang Arab.

Hmmm, semua memang ada plus minusnya, tapi sebagai jamaah yang romantis (rombongan makan gratis), sebaiknya dinikmati saja itu sedekah, karena yang paling penting adalah berkah dari puasa, bukan makanan saat berbuka. Toh, kenimatan yang paling besar bagi orang yang berpuasa adalah saat berbuka, bukan begitu?

Berlin 23.07.14

Shalat Tarawih 8 Rakaat Sekali Salam di Mesjid Turki

Salat TarawihJika di Indonesia umumnya atau di Aceh khususnya, sering ada yang “ribut-ribut” kecil antara kelompok 8 rakaat dan 20 rakaat dalam pelaksanaan shalat tarawih selama bulan ramadhan, hal ini belum pernah saya temukan di Eropa. Walaupun dalam jumlah rakaatnya berbeda, kita masih bisa melaksanakan dengan cara yang sama, sesuai dengan hadist nabi Muhammad SAW, shalatul laili, masna masna, yang berarti kira-kira “shalat (sunat) diwaktu malam dilakukan dua rakaat dua rakaat.

Namun tidak demikian dengan umat muslim (Turki) di Berlin, setelah sebelumnya mereka (dan saya yang juga jadi jamaahnya) melakukan shalat tarawih 4 rakaat sekali salam, dalam 10 malam terakhir mereka justru shalat 8 rakaat sekaligus sekali salam. hah? kok bisa?, bisa atau tidak bisa, begitulah kenyataanya.  Pun demikian, jumlah rakaat totalnya tetap sama, 20 rakaat ditambah witir 3 rakaat.

Karena harus ikut cara ini, lafaz niat shalat tarawih yang biasanya kita sebutkan “ushalli sunnatat-tarawih rak’ataini…..” kini harus berubah menjadi “ushalli sunnatat-tarawih samaniata-rakaatin…” untung pernah belajar bahasa arab, jadi tetap tahu cara lafaz niatnya berdasarkan jumlah rakaatnya.

Wah, islam itu indah ya!

Ariel: Nama Merek Deterjen

Apa kamu punya saudara, teman atau kenalan yang punya nama depan atau nama panggilan “Ariel” dan dia sangat bangga dengan nama tersebut? sebaiknya katakan pada dia untuk mikir-mikir dulu, sebab Ariel itu di Jerman adalah nama sebuah merek deterjen. Tidak percaya? cekidot saja foto dibawah ini.

Photo0346

Tapi harga Ariel itu lumayan mahal ya?

Photo0345

Nah, ada punya rencana untuk namain anak kamu Ariel? :), trus kalau ariel noah gimana ya?