Seandainya Suamiku…

Jarum jam di dinding terasa bergerak begitu lamban, dinginnya angin malam berlarian masuk kedalam rumahku, melalui jendela dan pintu dapur ruumah yang sedikit terbuka. Makanan di atas meja makan sudah mulai mendingin dan aku sepertinya tidak punya selera untuk menyantapnya. Sedang anak anakku sibuk bermain PS di ruang keluarga, aku sendirian di dapur, menunggu entah siapa, melamunkan entah apa.

Sekali lagi aku menatap keluar jendela, angin menerbangkan rambut hitamku dengan lembut. Diluar tampak mobil lalu lalang entah kemana, sekali2 ku dengar bunyik klakson, cukup riuh sebenarnya, tapi serasa sangat sepi bagiku. Continue reading

Advertisements

Berpacu dengan waktu

wpid-DSC_0067.jpgOh, morning sun
Before you arise
Before you’ll come and shine again on us
Let me find, let me find, let me find

Some comfort in the night
I don’t mind what I’ve lost
I’ve reached the shore
And nothing ever changed
In a thousand waves
A million waves
Oh still, I look for love (The waves, Elisa)

Tersadar, seiring dengan perjalanan waktu, waktu itu terasa semakin menyempit, menyingkat, padat. Dulu aku mengeluh betapa waktu itu begitu panjang, hingga yang di nanti tak kunjung datang. Saat baru masuk kuliah, serasa waktunya Continue reading

Suatu pagi di atas Becak.

Selesai sarapan nasi goreng putih masakan ibunya, Ami bergegas ke kamar, mengambil tas, merapikan jilbab dan memakai sepatu, siap berangkat ke sekolah.

Aulia, adik satu satunya Ami yang masih duduk di kelas 3 SD sedang kesusahan memakai sepatu yang mulai sobek dan menyempit di depan rumah kecil mereka, sedangkan ayah Rahman sedang mengelap becak mesin kesayangannya.

Beberapa menit kemudian, ketiganya sudah didalam becak yang melaju lamban membelah pinggiran Kota Banda Aceh, mengantar anaknya sekolah dan selanjutnya “narik becak” adalah pekerjaan rutin Ayah Rahman sejak 7 tahun lalu, pasca Tsunami.

Ami yang kini duduk di kelas 1 SMA mulai merasa risih, merasa dirinya sering menyusahkan ayahnya untuk mengantarnya kesekolah setiap pagi. saat teman-teman sekelasnya sudah berangkat kesekolah sendiri, ia masih saja diantar ayahnya, tidak hanya sekarang, tapi sejak dia kelas satu SD dulu. Continue reading

Kereta Terlambat, Uang Kembali

Rasa kantuk benar-benar menjadi musuh saya kali ini. Serangan jetlag memaksa mata untuk beberapa kali tertutup tanpa sengaja. Kalau di tanah air, saat ini adalah jam tidur malam. Perjalanan udara yang lebih dari 15 jam dari tanah air ke Jerman harus kusambung lagi dengan kereta cepat ICE dari Munich Hbf ke ibukota Jerman, Berlin. Jadinya, perjalanan darat lebih banyak kuhabiskan untuk tidur, sambil sekali-kali membaca jika aku bisa tersadar-sadar ayam.

Di antara ambang kesadaran itulah, aku mendengar pilot kereta beberapa kali mengumumkan bahwa perjalanan dari kota Munich ke Berlin kali ini akan terlambat karena beberapa alasan, salah satunya karena adanya perbaikan rel kereta. Beberapa kali pula aku merasa kereta melambat hingga benar-benar berhenti total di pinggir sebuah desa dekat dengan kota Jena. Lebih dari setengah jam kereta berhenti di sana dan sopir juga terus-terusan mengumumkan progres pekerjaan dan rencana perjalanan selanjutnya. Penumpang dibagikan air putih, tapi tak ada makanan. Bebeberapa saat kemudian, kereta ditarik ke sebuah stasiun kecil terdekat dari sana, saya lupa menulis nama stasiunnya. Di sana penumpang dibiarkan untuk turun dan menikmati udara bebas yang mulai mendingin. Saya juga keluar, membeli roti yang ada di toko kaca tanpa penjual. Lumayan untuk mengisi perut yang memang terakhir kali terisi lebih dari 4 jam yang lalu. Penumpang lain juga melakukan hal yang sama, tapi lebih banyak yang menjadi ahli hisap sepertinya. Continue reading

Penumpang Malaysia yang Sombong!?

Sebagai penumpang pemula, aku masih sering memilih kursi yang berada didekat jendela saat membooking tiket pesawat, hal itu juga kulakukan untuk penerbangan ini. Walau kadang terasa aneh karena penerbangannya malam dan tak ada yang bisa aku lihat, kecuali saat landing dan take off saja.

Penumpang disampingku kali ini orang adalah seorang pria dari malaysia, aku tahu setelah mendengar dia bercakap sekilas saat aku minta lewat didepannya tadi, sedangkan penumpang satunya lagi seorang bule perempuan, yang nyaris tak pernah bicara, bahkan langsung memilih untuk menutup matanya dengan kain hitam dan meninggalkan sign “dont disturb me” di sandaran kursinya.

Merasa sebagai tetangga serumpun, akupun mulai mengajak orang malaysia tersebut bicara, tapi respon yang kudapat malah kata-kata “iya” atau “tidak”, tidak lebih dari itu. Senyumpun sangat jarang dia lemparkan, malah terlihat memiliki afek datar dan kadang-kadang kecemasan. Merasa tidak begitu diperdulikan, aku lebih memilih diam, sambil memonton filem-filem yang ada didepanku. Continue reading

“Orang dulu” memang hebat!?

Labi-labi arah seulimeum bergerak lamban meninggalkan kota Banda Aceh, tidak banyak penumpang di dalamnya, walau suasana sudah mendekati lebaran. Sejak beberapa tahun terakhir memang, hampir setiap orang memiliki sepeda motor sebagai alat transportasi, imbasnya, angkutan umum yang dulunya sempat menjadi primadona, kini mulai berkurang populasi dan peminatnya.

Seorang pria tua duduk di dalam angkutan tersebut, memakai sarung, baju putih panjang tangan, plus kopiah hitam menutup ubannya. Sekitar satu meter di sampingnya, sorang anak muda sibuk membaca catatan kuliah, mencoba konsentrasi, walau sekali-kali terganggu oleh goyangan labi-labi ketika melewati jalan berbatu yang tak kunjung selesai dikerjakan.

Tepat di depan anak muda, sorang wanita tua, penjual sayur di pasar, juga duduk dengan santainya, sebuah ranjang sisa jualannya terletak di lantai angkot, dalam jangkauan kakinya. Continue reading

Ketika harus mengambil langkah seribu

Aku pernah terhentak dengan keanehan itu, denyut nadi berpacu karena adrenalin memaksa begitu, tapi aku terdiam terpaku, kusadar kau bukanlah tandinganku.

Kau berjalan ayu, sekali kakimu melangkah tiga kali pinggulmu bergoyang, kulihat kau juga terpaksa memakai rok hitam, sehitam beulangong di rumah nenekku. Ah..Kamu…

Aroma magismu mencoba menggodaku, senyum manis bibir bergincumu juga memaksa mataku berlirik ke mulutmu, suara Nan syahdu keluar dikala itu, sedikit serak, tapi becek, begitulah suaramu.

Melihat aku terpaku, kau kian mendekat, tapi kini aku dengan jelas melihat bulu2 tebal di betismu, juga di atas jakunmu..

Dari Pada aku terkena fitnah Dan musibah, mending kuambil langkah seribu….

Kisah dikejar khansa
#sajakiseng,janganterlaluserius.