Yuk Dukung Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba

Gerakan Rehabilitasi 100.000 Penyalahguna Narkoba? Kenapa tidak. Selama ini  kita hanya mencegah peredaran narkoba tanpa memikirkan nasib orang yang telah menjadi pecandu. Banyak di antara pecandu narkoba tersebut ingin sembuh tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Apa lagi orang-orang di kampung. Begh, setelah coba-coba memakai sabu lalu ketagihan dan menjual semua harta benda untuk bisa beli si sabu lagi. Akhirnya mengalami gangguan jiwa karena ketergantuangan obat-obatan tersebut. Continue reading

Tips Membeli Sepatu Branded dengan Harga Murah

Sepatuku dulu tak begini tapi kini jelek sekali. Koyak sana, koyak sini. Aaaaarrrghhhh…

Susah banget punya kaki ukuran jumbo. Sepatu sebentar-sebantar harus ganti. Iya sih, selama ini saya beli sepatu yang murah meriah. Jarang banget beli di outlet-outlet atau toko yang menjual sepatu branded. Bukan jarang lagi, malah enggak pernah. Terus belinya dimana? Ya di kaki lima, brai. Hemat, beib.

Istri saya sering banget ngomel-ngomel gegara hal ini. Bilangin saya terlalu irit lah, padahal belahan jiwaku mau mengatakan kalau saya pelit. Pelit mengeluarkan duit untuk beli sepatu tepatnya. Kalau untuk yang lain mah, saya terlalu royal 🙂 Nah, ini juga yang membuat istri saya mengomel. Masa untuk jalan-jalan, makan-makan, saya rela uang di ATM saya terkuras, tapi untuk beli sepatu saya malah perhitungan. Tapi seru juga dengar istri mengomel, itu tandanya dia perhatian. Hehehehe Continue reading

Arisan WC

“Dari mana Cupo bawa-bawa ember kecil segala?” tanya saya pada seorang wanita paro baya yang baru dari belakang rumah mertua saya.

“Biasa, dari kantor, melapor!” jawabnya sambil berlalu.

Kantor? Melapor? Saya bingung sendiri dengan jawaban si Cupo (Cupo adalah istilah dalam Bahasa Aceh yang berarti kakak). Hari masih pagi, saya sedang duduk-duduk di teras sambil menikmati udara Tangse yang dingin. Waktu itu saya dan istri sedang berlibur di kampungnya yang terletak di Tangse, Pidie, Aceh. Continue reading

Nonton ILK: Jadi Kenal JKT48

boybandSore ini, maksud hati ingin hunting foto di daerah Steglitz Berlin, tapi suhu diluar yang mulai dingin membuat saya memilih untuk tetap di meja kerja. Sambil membaca kembali laporan yang sedang saya tulis, laptop satunya lagi saya hidupkan, katanya #ILK sedang live, jadi walau dari jauh, saya ingin juga nonton langsung, live-streaming maksudnya.

Iya Indonesia Lawak Klub atau ILK adalah salah satu dari sedikit acara yang saya tonton. Seringnya nonton di youtube sambil kerja seperti sekarang, atau jika duluan pulang dari rumah sakit, nonton di rumah. Tapi kerja sebagai peneliti susah di tebak waktunya, belum lagi saya sedapat mungkin menghindar untuk menumpuk pekerjaan. Kerja dengan orang Jerman katanya memang sering dalam tekanan, tapi sejauh pengalaman saya, biasa saja, selama kerjaan yang diminta bisa kita kerjakan tepat waktu dan sesuai. Continue reading

Selamat Jalan Guru Kami*

Sebuah Catatan!

Oktober 1998, Bed Merah!

Lelaki paruh baya itu berdiri didepan kami, dia melempar senyum ke penjuru kelas, kami hanya terdiam. Bajunya rapi, sepatunya hitam mengkilat, rambut belah tengah – sedikit kesamping membuat kesan lelaki layak di hormati.

“combustio, ini artinya luka bakar”, sebutnya sambil menulis “combustio” di papan putih depan kelas. “kalau commotio cerebri, itu artinya geger otak”, sebutnya lagi sambil kembali menulis. Ketika bebalik menghadap ke kami, ibu jari dan jari telunjuknya menghapus pinggir mulutnya, perilaku yang sangat identik dengannya.

Combustio dan commotio cerebri, itulah dua kata yang saya ingat setelah beberapa lama belajar di sekolah perawat, kedua kata kata tersebut masih terekam jelas hingaa sekarang. Setiap membaca atau mendengat kedua kata tersebut, saya langsung teringat dengan lelaki yang menjelaskan makna kata tadi, puluhan tahun lalu. Continue reading

Apakah Marshanda Mengalami Gangguan Jiwa?

Pertanyaan tersebut semakin banyak ditanyakan setelah pengacara artis yang biasa panggil chaca ini angkat bicara kalau kliennya tidak mengalami gangguan jiwa.

“Dia mandiri dan dia tidak mengalami gangguan jiwa. Dia masih bisa berkarya. Jangan ada yang ganggu dia. Dia tidak melakukan pelanggaran hukum,” ujar OC Kaligis, yang mendampingi Chaca, dalam wawancara eksklusif yang dilakukan dan ditayangkan langsung oleh Metro TV, Selasa (5/8/2014).

Pernyataan ini justru menimbulkan tanda tanya baru, jika memang chaca tidak punya masalah kejiwaan, kenapa kemudian harus disampaikan ke publik? siapa yang menuduh chaca gangguan jiwa? dan yang paling penting, bagaimana OC kaligis yang seorang ahli hukum bisa membuat diagnosa apakah seseorang mengalami gangguan jiwa atau tidak? Apakah beliau pernah kuliah kedokteran atau sebelumnya sudah pernah di konsultasikan ke ahli jiwa sehingga ia bisa menyampaikan hasil diagnosa tersebut?

Jika pernyataan tersebut berasal dari seorang OC kaligis pribadi, maka hal itu sangat disayangkan karena untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan jiwa atau tidak, itu seharusnya dilakukan oleh ahli jiwa atau psikiater, bukan oleh ahli hukum. Kecuali si ahli hukum ini sudah sebelumnya berkonsultasi dengan ahli jiwa, makan hal ini bisa diterima. Continue reading

Puasa Hemat ala Mahasiswa Indonesia di Eropa

Jika di Indonesia kita menghabiskan lebih banyak uang untuk belanja kebutuhan buka puasa dan sahur selama bulan ramadhan, kenyataan sebaliknya justru terjadi pada kami mahasiswa di Eropa. Selama bulan ramadhan, praktis kami mengeluarkan uang yang jauh lebih sedikit dibandingkan bulan bulan sebelumnya, karena hampir semua kebutuhan makan dan minum bisa kami peroleh secara gratis, bagaimana bisa?

Jawabannya: Rajin rajinlah ke mesjid

Al falah 1Hampir di semua mesjid di Eropa, baik Jerman, Belanda dan juga, menurut informasi kawan, di Perancis, selama bulan puasa mereka memberikan bukaan gratis kepada semua jamaah yang shalat magrib di mesjidnya. Menunya pun beragam, umumnya berdasarkan negara asal para pengurus mesjid. Di Mesjid Turki misalnya, makanan yang disediakan hampir semuanya ala Turki, begitu juga dengan mesji Maroko atau Libanon, makanannya disesuaikan dengan lidah mereka.

Bagaimana jika ingin menyicipi makanan ala Indonesia? di Mesjid al Falah Berlin anda bisa memperolehnya. Hampirs setiap hari (kecuali hari jumat), mesjid Indonesia di Berlin ini menyediakan makanan buka puasa untuk seluruh jamaahnya. Tidak hanya saat buka puasa, saat sahur mesjid ini juga menyediakaan makanan untuk jamaah yang datang kesana. Jamaahnya tentu di doninasi oleh mahasiswa pencari makanan gratis seperti saya.

Karena Indonesia sangat kaya dan pengunjung mesjid juga berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, menu yang disediakan juga sangat beragam, dan berasal hampir di semua daerah di Indonesia. Sayangnya hingga saat ini saya belum pernah mencicipi mie Aceh di mesjid ini.

Namun karena letak tempat tinggal yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya di Kreuzberg, sedangkan mesjid al Falah lokasinya di Alt-Moabit, saya lebih sering memilih untuk berbuka di Mesjid Turki yang letaknya hanya 300 meter dari tempat tinggal saya. Disana saya berbaur dengan jamaan berbagai negara, tetapi umunya orang Turki dan muslim dari afrika. Mesjid langganan saya ini adalah fatih kultur haus, meski berlabel kultur haus atau rumah budaya, bangunan ini lebih banyak difungsikan sebagai sebuah mesjid, sama seperti mesjid Alfalah yang masih berstatus sebagai sebuah e.V ., atau lengkapnya IWKZ eV (Indonesisches Weisheits – und Kulturzentrum, e.V.). Kenapa harus rumah budaya atau pusat budaya, tidak langsung menyebut mesjid, nanti kita diskusikan masalah ini di tulisan lain.

Al afalah 2

suasana berbuka di mesjid al falah

Balik lagi ke buka puasa gratis. Di Mesjid Turki langganan saya, biasanya jamaah sudah berkumpul beberapa menit sebelum masuk masuk waktu magrib. Begitu azan akan dikumandangkan, panitia biasanya membagikan sebutir buah kurma pada semua jamaah, dan langsung di lanjutkan dengan shalat magrib. Selesai magrib baru semua jamaah turun ke lantai bawah yang merupakan kantin untuk makan buka puasa. Lain halnya dengan kebiasaan di mesjid indonesia, dimana kita biasanya berbuka dengan bubur atau kolak, kemudian shalat dan setelah shalat baru makan makanan “berat”.

Perbedaan yang saya rasakan antara berbuka dengan mesjid Indonesia dengan mesjid Arab-Turki lain di Jerman adalah, jika di mesjid Indonesia, menunya pas, sesuai dengan lidah kita, tetapi jumlah makanan yang tersedia sering pas-pasan mengingat banyaknya jamaah berbuka puasa. Sebaliknya di mesji Arab atau mesjid Turki, menunya biasanya pas-pasan dengan lidah saya, tapi jumlahnya di jamin jauh lebih banyak karena mengikuti porsi makan orang Arab.

Hmmm, semua memang ada plus minusnya, tapi sebagai jamaah yang romantis (rombongan makan gratis), sebaiknya dinikmati saja itu sedekah, karena yang paling penting adalah berkah dari puasa, bukan makanan saat berbuka. Toh, kenimatan yang paling besar bagi orang yang berpuasa adalah saat berbuka, bukan begitu?

Berlin 23.07.14