Uji Keimanan – Perlukah?

Rasanya jadi lucu membaca koran beberapa hari yang lalu, katanya yang mau kuliah ke luar negeri harus lulus tes keimanan terlebih dahulu. Tujuannya sih tidak masalah, karena memang anak Aceh yang mau dibiayai sekolah keluar sebaiknya sudah dibentengi dengan keimanan yang baik. Yang agak rancu menurut saya adalah, bagaiamana cara untuk mengetes keimanan tersebut? adakah alat atau tools khusus yang bisa menilai tingkat atau kadar keimanan seseorang? Cukupkah hanya dengan kemampuan membaca Qur’an, memahami rukun Islam dan sebagainya?

Continue reading

Keajaiban Giok Aceh

Setiap sore hingga malam, kawasan Ulee lheu dipenuhi oleh pedagang dan pemburu batu alam. Kalau tidak percaya coba aja sekali kali jalan sore di dekat mesjid Baiturrahim, kita akan menemukan deretan mobil mewah dan sepeda motor yang parkir di sepanjang jalan yang dibangun pasca Tsunami ini. Padahal, pasar ini dulunya kosong melompong, tak ada penjual, apalagi pembeli. Tapi “keajaiban” giok membuat pasar kecil ini jadi incaran semua orang, tidak hanya warga lokal, tetapi juga turis yang sedang berwisata di Banda Aceh.

Batu Aceh: Dulu – Sekarang Continue reading

Cut Nyak Dhien Ternyata Tidak Berjilbab?

Media sosial kembali heboh, pertanyaan yang sebenarnya sudah terjawab sejak lama kini kembali ditanyakan, apakah Cut Nyak Dhien menggunakan jilbab semasa hidupnya? Jawaban singkat yang bisa diberikan adalah tidak. Karena dimasa beliau hidup, jilbab seperti yang umumnya digunakan oleh wanita jaman sekarang mungkin belum dikenal. Tapi, dari kebiasaan perempuan Aceh zaman dulu, mereka tetap menutup aurat. Continue reading

Kalender Aceh, Masihkah Ada Yang Ingat?

Pernah tahu atau pernah dengar kalau Aceh (pernah) punya kalender? Selain kalender Geogian dan kalender Arab yang sering kita dengar, apa saja kalender yang kita gunakan? Kalender Cina? Kalender Jawa? Mungkin selama ini kita hanya terbiasa dengan kalender masehi. Tapi pernahkan kita tahu kalau Aceh juga (pernah) punya kalender sendiri? Mungkin sedikit yang sadar tentang hal ini, bahkan orang Aceh sekalipun. Padahal kalender ini sudah lama dipakai, lengkap dengan nama-nama bulan yang khas Aceh. Hal ini setidaknya terungkap dalam diskusi yang saya ikuti pagi tadi di aula kantor walikota Banda Aceh. Acara yang diinisiasi oleh kawan kawan MIT ini sejujurnya sangatlah menarik, walau dalam persiapan mereka hampir tidak punya bantuan dana sama sekali!

Diskusi Kalender Aceh

Terus, kenapa Kalender Aceh jadi penting? Continue reading

Apakah Aceh Sudah Merdeka?

Setiap membaca surat kabar online dari Nanggroe, beritanya tidak jauh jauh dari aksi demostrasi, ribut antar pendukung golongan ini, protes suatu kelompok karena kelompk lain tidak sudi lahan atau periuk nasinya di rebut, bahkan yang paling parah seperti aksi pelemparan bus dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah, kenapa semua itu bisa terjadi? Banyak teori atau hipotesa yang bisa di masukkan dalam list untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi semuanya saya rasa berujung pada sebuah permasalahan: tidak punya kerjaan.

Dalam Bahasa Aceh, tidak punya kerjaan dikenal juga sebagai hana buet. Tamsilan efek “mengganggu” dari hana buet ini sudah disebutkan dalam bahasa aceh “hana buet, cok peulaken cilek bak pruet, woe bak mak you rhah, woe bak yah you uet”, betapa orang yang tidak punya kerjaan sering melakukan sesuatu yang tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga meresahkan orang lain. Continue reading