Cerita-cerita Penolakan

Sebulan lebih saya tidak sempat nyetor tulisan di blog ini. Meski banyak ide atau pengalaman yang hendak dituliskan, waktu sangat tidak memungkin. Dalam list kerjaan, banyak sekali deadline yang harus saya kejar, ada yang akhir bulan ini, awal bulan depan, dan sebagianya dan sebagainya. Meski masih banyak yang belum selesai dikerjakan, rasa gatal untuk menulis di blog sudah terlanjut membuat jari ingin bergoyang di tuts keyboard, tulis saja apa yang mau ditulis, apalagi sekarang, saat ini istri dan anak sedang tidur terlelap di tengah malam, saya malah tidak bisa tidur karena jetlag masih menyerang, meski hampir seminggu sudah di tanah air.

Baiklah, kali ini ceritanya tentang kisah penolakan, mulai dari paper ilmiah, hingga penolakan cerita jalan-jalan ke majalah nasional, bahkan penolakan citizen reporter di koran lokal yang, kata kawan, hampir gak pernah nolak tulisan warga.

Bicara tentang artikel ilmiah, berarti bicara dengan tugas sehari-hari saya. Ya, sebagai Forcher, tugas kami tak lebih dari membaca penelitian-penelitian orang dalam bentuk publikasi, membuat penelitian, menulis laporan dan tentunya mengirim ke jurnal untuk publikasi. Jika menulis ke koran atau majalah, yang di edit adalah gaya penulisan atau tata bahasa yang saya akui kacau. Sebaliknya tulisan ilmiah, tulisan kita tidak pernah di edit, tetapi kita harus mempertanggung jawabkan setiap kalimat atau data yang kita tulis. Kenapa desain penelitian seperti ini? kenapa temuannya begini, kenapa kesimpulannya begitu, dan sebagainya dan sebagainya. Prosesnya panjang, bisa berbulan-bulan. Baru setelah kita bisa pertanggung-jawabkan semua pertanyaan dari reviewer, paper kita diterima untuk publikasi, meski pernah juga setelah kita jawab semua pertanyaan dari reviewer, paper tersebut tetap ditolak untuk dipublikasi. Penolakan di tahap ini seperti orang yang udah pesan makanan dan sudah bayar, tetapi makanan tak pernah dihidangkan karena ternyata sudah duluan habis oleh pelanggan lain. sakitnya tuh disini “tunjuk paper”.

Nah, kalau paper yang ditolak, itu adalah hal biasa bagi kami Forcher, ditolah di jurnal ini, bisa kirim ka jurnal lain, bahkan pernah ditolak di jurnal yang IF rendah, kemudian coba-coba kirim ke jurnal yang IF nya lebih baik dan malah keterima, capeknya ya itu, harus menyesuaikan lagi format tulisan sesuai dengan permintaan jurnal yang mau dikirim.

Selanjutnya masuk ke penolakan tulisan jalan-jalan. Meski mengaku travel blogger, hampir semua tulisan jalan-jalan saya berakhir di blog ini. Sampai akhirnya istri memaksa saya untuk mengirim ke majalah nasional yang memang rajin menerima tulisan jalan-jalan. Meski ogah-ogahan, ada juga beberapa tulisan yang saya siapkan, lengkap dengan fotonya, yang kemudian dikirim ke majalah oleh si istri. Sayangnya, dari beberapa tulisan yang sudah dikirim, belum satupun ada jawaban. Ditolak kah? wallahu a’lam. Yang pasti kisahnya sudah mirip dengan iklan di TV, “SMS tak ada, balasan email tak ada, majalah ini maunya apa?”. Baiknya nunggu aja beberapa minggu lagi, kalau tetap belum ada kabar, ya posting aja di blog ini, habis perkara.

Yang terakhir adalah tulisan yang saya kirim ke sebuah koran lokal di Aceh. Entah kenapa, dari beberapa tulisan yang pernah saya kirim, mulai dari opini, hingga cerita perjalanan “citizen reporter”, tak satupun yang pernah dimuat. parahnya lagi, emailnya saja tak dibalas, padahal kalau dibilang saja tidak layak muat, kan bisa kirim ke koran lokal lain, yang memang dengan senantiasa menerima tulisan. Sangking penasarannya, pernah saya ingin tanya langsung ke kawan yang memang bekerja sebagai wartawan disana, tapi ya sudah lah. Untuk yang satu ini, tak tau harus berbuat apa. Tolak teruss…

Advertisements

2 thoughts on “Cerita-cerita Penolakan

  1. Mirip-2 juga dengan pengalaman saya memasukan artikel ke koran lokal di banjarmasin juga pernah ditolak. singkat cerita saya coba mengirimkan artikel secara manual melalui amplop resmi, saya antarkan langsung ke redaksinya. Seminggu kemudian diberi jawaban, dan artikel bisa dimuat. Artikel berikutnya, saya coba lewat email saja, dan ternyata segera direspon. Mungkin di awalnya langsung ke redaksi, berikutnya cukup via email. Wallahu a’lam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s