Uji Keimanan – Perlukah?

Rasanya jadi lucu membaca koran beberapa hari yang lalu, katanya yang mau kuliah ke luar negeri harus lulus tes keimanan terlebih dahulu. Tujuannya sih tidak masalah, karena memang anak Aceh yang mau dibiayai sekolah keluar sebaiknya sudah dibentengi dengan keimanan yang baik. Yang agak rancu menurut saya adalah, bagaiamana cara untuk mengetes keimanan tersebut? adakah alat atau tools khusus yang bisa menilai tingkat atau kadar keimanan seseorang? Cukupkah hanya dengan kemampuan membaca Qur’an, memahami rukun Islam dan sebagainya?

Diskusi mengenai tes keimaman ini sudah panjang lebar dikalangan mahasiswa Aceh yang sedang kuliah di luar negeri. Ada yang menanggapi alakadarnya, ada juga yang serius mengulas kebijakan yang fenomenal ini, yang lebih ekstrim justru berkomentar “sekalian juga kita tes kejujuran buat wakil yang kita pilih untuk jadi anggota dewan, mereka makan haram tidak?” nah lho? gimana cara nge tes nya?

Pangkal dari keimanan adalah kejujuran, sejauh apapun pengetahuan agama kita, kalau tidak jujur ya sama saja. Buktinya banyak mereka yang mengaku orang alim justru korupsi, membuat proyek fiktif, membuat peraturan yang hanya menguntungkan mereka, mereka tahu itu salah, mereka juga tahu persis secara agama (Islam) itu dilarang, tapi mereka tetap juga melakukannya? tanya kenapa? jujurnya tidak ada.

Lebih parah lagi, dalam program-program penghamburan uang rakyat, misalnya seminar, pelatihan atau rapat koordinasi yang sering tidak penting, pembukaan acaranya hampir selalu dimulai dengan pembacaan ayat Al-qur’an. Apa maksud semua ini?

Kita tidak pernah bisa melihat hati seseorang, kalaupun dibedah, kita hanya bisa melihat fisik dari hati tersebut, kalau rusak misalnya ada sirosis dan sebagainya. Tapi iman dihati itu tak pernah kita ketahui, karena hanya Yang Maha Kuasalah yang bisa menilai hal ini. Kita hanya diberi petunjuk oleh Al’quran dan Rasul tentang tanda-tanda orang beriman, tapi kadar atau nilai keimanan ini, sekali lagi, tidak bisa hanya dinilai oleh orang lain, yang belum tentu imannya lebih baik daripada orang yang diuji.

Jika kita ingin agar iman adik adik kita yang mau kuliah keluar negeri, atau anak anak kita sendiri dirumah, cara yang paling baik tentu dengan memberikan contoh kepada mereka. Lihat bagaimana Qur’an mengisahkan cara Lukmanul hakim memberikan pelajan kepada anak-anaknya. Berikan contoh kepada kami bagaimana cara beriman yang baik, bagaimana bisa jujur dengan amanah yang diberikan, bagiamana tidak menjadi pegawai “teladan” – Telat datang pulang duluan, bagaimana tidak menghabiskan banyak waktu di warung kopi, bagaimana bekerja untuk rakyat, membuat bangsa lebih produktif, membuat qanun yang bisa memperkuat ekonomi rakyat, bukan cuma mengejar warna bendera!

Kami yakin kita semua sangat mencintai nanggroe kita, jadi mari berfikir positif, mari bekerja lebih produktif, mari memperkuat keimanan dengan kejujuran, mari memperbanyak pengajian, uji keimanan kami rasa bukan standar baku untuk menilai hati seseorang, tapi memberikan contoh yang baik pasti bisa membuat keimanan orang lain juga lebih baik. Bukankan Al mu’minu mir-atu akhirhil mu’min? (orang mukmin adalah cerminan buat orang mukmin yang lain?)

sekian!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s