Pengalaman Sewa Rumah di Jerman

Jika di Indonesia kita biasanya mengandalkan kawan atau kenalan saat mau cari rumah sewa, di Jerman akan lebih mudah jika kita menggunakan media internet. Banyak sekali website yang bisa kita gunakan. Informasi harga, ukuran rumah serta jenis kontrak biasanya jelas tertulis disana. Tapi banyaknya rumah yang disediakan bukan berarti mudah untuk mendapatkan rumah sewa, mudah sih, tapi sering biaya sewanya sangat mahal untuk ukuran pendatang dari negara berkembang seperti Indonesia. Jika rumah yang ditawarkan pas dengan budget, biasanya langsung deal. Tapi sering kita harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan rumah idaman yang murah meriah.

Sebagai mahasiswa, sebenarnya saya bisa saja tinggal di Asrama mahasiswa, yang harga sewa kamar sudah disesuaikan dengan uang yang kita punya. Tapi ingat juga kata kawan, “menyo nyan hana tantangan sagee“, dengan logat Samahani tentunya. Ya, kamar sewa mahasiswa sudah lengkap, sudah ada tempat tidur, lemari, dapur, dan kamar mandi. Sedangkan sewa rumah atau apartemen layaknya orang Jerman rupanya penuh dengan tantangan, tidak cukup punya uang saja, tapi banyak hal lain yang harus kita persiapkan dan lakukan.

Jika sebagian besar orang Indonesia punya rumah pribadi, orang jerman justru katanya lebih banyak yang menyewa rumah sepanjang hidupnya. Meskipun kadang pendapatan mereka cukup atau mapan, mereka lebih memilih sewa dibandingkan memiliki rumah sendiri. Selain alasan pajak, ongkos buat rumah atau beli rumah sungguh mahal di Eropa Barat. Jadinya ya jadi penyewa seumur hidup.

Nah, ada dua jenis sewa rumah atau apartemen di Jerman; ada yang disebut kaltmiete, ada juga warmmiete. Jika warmmiete sudah termasuk dengan air, pemanas, listrik dan bahkan perabotan, kaltmiete adalah sewa kosong, yang berarti kita hanya memperoleh bangunan saja, sedangkan isi perabotan, listrik, air, pemanas dan internet harus kita urus sendiri. Umumnya orang jerman lebih memilih kaltmiete, karena selain harganya murah, mereka bisa mendesain atau mendekorasi sendiri bentuk dan tataletak isi rumah mereka. Saya kebetulan dapat rumah dengan sistem kaltmiete.

Jika kita ingin menyewa rumah yang diiklankan, kita bisa datang langsung ke perusahaan penyewa tumah atau pemiliknya. Setelah termin (janji ketemu) dibuat, kita bisa sama-sama datang untuk melihat rumah. Jika cocok, syarat selanjutnya adalah kita harus mampu secara keuangan. Mampu ini tidak hanya cukup dengan print koran rekening bank, tetapi kita harus menunjukkan surat shufa ke penyewa tersebut. Surat shufa ini dikeluarkah oleh pihak lain yang langsung memonitor keuangan kita, kita hanya perlu menunjukkan rekening bank ke mereka. Proses aplikasi shufa ini bisa dilakukan secara online, jadi jangan harap bisa KKN karena memang kita tak tahu siapa yang mengevaluasi bank kita. Setelah beberapa hari, surat dikirim ke rumah oleh pihak shufa ini, lengkap dengan rangking hasil penilaian. Makin tinggi rangking atau makin mendekati 100, makin stabil pula pemasukan dan pengeluaran kita. Dan dengan surat shufa ini pula pihak menyewa menentukan apakah kita bisa menyewa rumah atau tidak. Alhamdulillah nilai saya tinggi dan tidak masalah waktu mau sewa rumah.

Setelah syarat shufa dipenuhi, kemudian kita akan meneken kontrak rumah, plus uang jaminan, biasanya sebanyak 2 kali bulan sewa; misalnya biaya sewa per bulannya adalah 400 euro, maka jaminannya adalah 800 euro. Setelah membayar, kunci diserahkan, kemudian terserah kita mau isi dengan perabotan yang kita punya, atau yang akan kita beli. Begitu juga dengan listrik, kita harus mendaftar sendiri, jika air dan gas untuk masak tidak termasuk dalam sewa, juga kita harus urus sendiri. Begitu juga dengan pemanas dan internet. Nah, bagaimana pengalaman saya mendaftar jadi pelangan listrik? ceritanya bisa dibaca disini: Menjadi Pelanggan Listrik di Jerman

Dan, setelah dipikir-pikir, ternyata yang paling enak itu tinggal dirumah mertua ya? sudah inklude semua dan gak perlu bayar uang sewa 🙂

Advertisements

One thought on “Pengalaman Sewa Rumah di Jerman

  1. Na says:

    Ureung Aceh, bang? Lon pih ureung Aceh 😀

    Boleh tanya-tanya soal biaya sewa wonhung di Berlin per bulannya berapa bang? Terutama untuk suami istri dengan satu anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s