Belajar dari Kafir?

Kesempatan yang saya peroleh untuk berkunjung ke berbagai negara di Eropa dan Amerika Utara tak hanya saya pergunakan untuk menunaikan kebawajiban sebagai peneliti, ikut konferensi dan memberitakan presentasi, tapi juga untuk mengetahui lebih dekat dengan mereka yang sering kita sebut orang Barat, atau lebih spesifik, orang kafir. Ya dari segi agama, setiap non muslim adalah kafir bagi kita. Sama seperti mereka menyebut muslim sebagai kafir bagi agama mereka. Sering kita menganggap bahwa kita sebagai orang timur, sebagai orang yang sopan, beradap dan sebagainya. Dan perasaan etnosentris, aggapan bahwa budanya lebih superior dari yang lain, ini cukup wajar karena hampir setiap orang memilikinya.

Kali ini saya tidak akan menulis tentang ethnosentris itu sendiri tapi pengalaman dan hasil amatan saya sendiri saat berada di sekitar orang kafir itu sendiri.

Belajar Jujur di Norwegia

Norwegia adalah negara termakmur di dunia saat ini. Indeks pembangunan manusia mereka adalah yang terbaik, jauh mengalahkan negara besar seperti Amerika Serikat. Padahal penduduk Norwegia tidak lebih dari 5 juta orang, relaitf sama dengan jumlah penduduk Aceh, dengan luas daerah yang sedikit lebih besar. Norwegia saat perang dunia kedua hancur lebur diserang Jerman, kini mereka punya rerata kualitas hidup yang lebih baik dari Jerman, bahkan ada beberapa kenalan saya yang dokter asal Jerman tetapi bekerja di Norwegia. Saat saya tanya kenapa suka bekerja di Norwegia, selain gaji yang lebih baik (walau Jerman juga cukup baik sebenarnya), mereka juga mengaku lebih nyaman dan merasa lebih terjamin bekerja di negara kecil ini.

Awal tahun lalu saya punya kesempatan untuk ikut short course dengan seorang profesor yang cukup terkenal di bidang yang saya geluti. Professor ini juga salah satu pembimbing mantan menteri kesehatan Indonesia Alm Dr Endang, saat beliau mengambil DrPH nya di Harvard. Sebelumnya saya hanya mengenalnya dari buku buku yang beliau tulis, dan saat kesempatan untuk bertemu muka, pasti tidak saya sia siakan. Kesan pertama yang saya dapat dari Guru besar Harvard ini adalah keramah tamahan dia dengan mahasiswa. Kami diminta untuk mengenalkan diri dengan nama depan sehingga ia lebih mudah mengingatnya. Benar memang, dalam dua minggu ia sudah hafal semua nama kami sekelas, dan selalu memanggil nama depan kami. Sedangkan ia tidak pernah mau dipanggil profesor, tapi juga cukup dengan nama depannya.

Dalam sebuah kesempatan, saya bertanya tentang sebuah pertanyaan yang saya harap dapat jawaban dari beliau, tapi karena memang pertanyaan tersebut “agak” sulit dijelaskan, beliau langsung menjawab “tidak tahu”. Sebuah jawaban yang sangat jujur dan belum pernah saya dengar dari orang lain. Bahkan beliau sama sekali tidak mau mencoba menjelaskan karena memang beliau mengaku tidak tahu. “kenapa saya harus jelaskan sesuatu yang saya saja masih bingung?” begitu jelas beliau. Setelah jam diskusi selesai, sambil minum jus yang dibawa beliau, kawan-kawan saya mengaku salut dengan jawaban jujur si profesor “kalau di kampung saya, profesor tak akan pernah jawab tidak tahu” sebut seorang kawan yang juga dari Asia, hal itu juga di aminkan oleh kawan lain dari Afrika.

Pulang ke rumah, saya coba tanya pertanyaan yang tidak bisa dijawab tadi ke seorang kawan yang juga seorang dosen di almamater saya. Dengan panjang lebar dia coba jelaskan kesaya, seolah olah dia sangat mengerti dengan jawaban yang dia berikan. Setelah dia jawab, saya balik tanya ke dia “kamu yakin dengan penjelelasan tadi? Apa benar kamu tahu?”, dan jawaban dia kali ini adalah “pokoknya gitulah, masa itu aja gak ngerti” hmmm

Di hari yang lain, saya harus naik bus ke kampus yang jaraknya  hanya sekitar 20 menit jalan kaki dari tempat saya menginap. Bukan karena telat, tapi hari itu salju sangat tebal dan hawa dingin tidak sanggup saya lawan. Mahasiswa lain yang biasa jalan kaki juga harus naik bus saat itu, membuat bus yang biasanya muat, kini penuh dengan orang berdiri. Nah,  bus ini ada 3 pintu, di depan atau samping sopir, tengah dan belakang. Biasanya kalau kita belum punya tiket, kita harus naik lewat pintu depan untuk membeli tiket dari supir, jika sudah punya bisa langsung naik lewat pintu tengah atau belakang. Nah, hari itu ada ibu ibu yang naik dari pintu tengah karena dari depan penumpangnya sudah penuh. Setelah 2 halte dia sampai ke tujuan. Dan kagetnya saya ketika melihat dia kembali ke depan hanya untuk membayar, padahal sopir tidak meminta sama sekali, setelah bayar, dia langsung pergi ke lorong tempat dia bekerja. Ketika sampai di halte kampus, beberapa mahasiswa yang tadi masuk lewat pintu tengah juga kedepan, jumpa dengan sopir untuk membayar ongkosnya. Sambil jalan, saya tanya ke dia, “emang ada yang periksa kalau langsung pergi tanpa membayar?”, dia menjawab, “tidak ada, sopir juga tidak akan ingat, tapi kita bayar bus bukan karena diminta atau karena takut diperiksa, kita membayar karena sudah menggunakan fasilitasnya.

Nah, kita yang mengaku muslim, berapa banyak dari kita yang mau atau bisa jujur seperti diatas?

Advertisements

10 thoughts on “Belajar dari Kafir?

  1. Nice sharing, mencerahkan! 🙂

    sekedar komentar saja, bagi agama lain Muslim bukan kafir. Bagi Budhist, misalnya, ngga ada kata-kata “kafir dalam kamus mereka. Bagi orang katolik, kata-kata “kafir” sudah dihilangkan sejak tahun masehi 🙂

    keep on good writing

  2. ما شاء الله
    Mungkin bisa jadi karena pola manusianya sangat jujur sehingganya diberikan rezeki di dunia yang banyak, sudah seharusnya orang-orang di Indonesia yang umumnya Muslim harus mencontoh sifat Rasulullah juga yakni “jujur”

    Salam Kenal Mas Tunis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s