Keajaiban Giok Aceh

Setiap sore hingga malam, kawasan Ulee lheu dipenuhi oleh pedagang dan pemburu batu alam. Kalau tidak percaya coba aja sekali kali jalan sore di dekat mesjid Baiturrahim, kita akan menemukan deretan mobil mewah dan sepeda motor yang parkir di sepanjang jalan yang dibangun pasca Tsunami ini. Padahal, pasar ini dulunya kosong melompong, tak ada penjual, apalagi pembeli. Tapi “keajaiban” giok membuat pasar kecil ini jadi incaran semua orang, tidak hanya warga lokal, tetapi juga turis yang sedang berwisata di Banda Aceh.

Batu Aceh: Dulu – Sekarang

Waktu saya kecil, sekitar 20 tahun lalu, kami sering naik ke bukit yang ada di belakang kampung kami. Tujuan utama kesana adalah untuk bermain pelosotan alam; naik ke atas bukit, kemudian pakai situek yang sudah kering kami meluncur ke bawah. Sambil main pelosotan ini juga kami sering menemukan batu yang bisa diasah untuk jadi cincin. Saya sendiri ada dua kali menemukan batu kecil seukuran genggaman tangan saya saat itu. Setelah dipecah, bagian dalamnya transparan dan mengkilat. Selain transparan dan berwarna bening, ada juga yang berwarna lain seperti coklat, hijau, oranye dan sebagainya, tetapi semua mengkilat dan tranparan. Batu batu ini yang kami bawa pulang, tapi sering juga kami tinggalkan disitu begitu saja.

Batu yang kami bawa pulang ini kemudian kami asah sendiri, dengan peralatan seadanya seperti batu asah, kain penghalus, dan kapas. Ada memang tetangga kami yang punya peralatan khusus yang ia modifikasi dari roda sepeda dan bisa diputar dengan tangan untuk menghaluskan batu cincin, tapi itu hanya digunakan untuk mengasah batu cincin yang akan dipakai sendiri, tidak lebih. Saya sendiri berhasil menghaluskan sebiji batu, yang kemudian dibawa oleh ayah saya untuk diikat dengan suasa, ongkos ikat batu dengan gangang suasa ini harganya hanya 35 ribu rupiah. Uang ini adalah hasil tabungan saya dari menjual pinang. Makanya saya ingat betul.

Selain “menemukan” dan mengolah cincin sendiri untuk dipakai sendiri, saat itu tidak banyak kehebohan yang terjadi dengan batu alam ini. Sedangkan sekarang, hampir disemua sudut kota, pinggir jalan, kedai kopi, hingga ke kantor kantor pemeritahan, bahkan sampai kemedia nasional, semuanya heboh dengan batu alam yang sekarang saya baru tahu disebut giok ini. Tidak hanya itu, banyak pesohor televisi negara ini yang ternyata adalah pecinta batu giok, bahkan banyak yang langsung turun ke lapangan untuk mencarinya dari alam, tidak sekedar membeli yang sudah diolah orang. Betapa giok ini kini sudah menyihir manusia. Bersambung ke bagian 2: Giok Aceh: Bukan Hanya Dominasi Kaum Adam

Advertisements

2 thoughts on “Keajaiban Giok Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s