Cut Nyak Dhien Ternyata Tidak Berjilbab?

Media sosial kembali heboh, pertanyaan yang sebenarnya sudah terjawab sejak lama kini kembali ditanyakan, apakah Cut Nyak Dhien menggunakan jilbab semasa hidupnya? Jawaban singkat yang bisa diberikan adalah tidak. Karena dimasa beliau hidup, jilbab seperti yang umumnya digunakan oleh wanita jaman sekarang mungkin belum dikenal. Tapi, dari kebiasaan perempuan Aceh zaman dulu, mereka tetap menutup aurat.

Tidak berjilbab, tapi penutup Aurat?
Nah, pertanyaan selanjutnya, dengan apa mereka menutup aurat (dalam hal ini, kepalanya)? Dalam bahasa Aceh yang kami tahu, baik dalam bahasa sehari hari maupun dalam kitab kuning yang bertulisan arab jawi bahasa Aceh, kami belum pernah mengenal kata jilbab, sebaliknya kata ija top ulee atau ija sawak yang keduanya bermakna kain penutup kepala yang sering kami dengar. Dengan kata lain, sekilas bisa disimpulkan bahwa sejak dulu wanita Aceh tidak menggunakam jilbab untuk menutup aurat, tapi menggunakan kain, apakah itu selendang, atau kain biasa yang bisa digunakan untuk menutup seluruh tubuhnya, tidak hanya kepala.

Bagaimana kemudian dengan gambar Cut Nyak Dhien yang sering lita lihat, baik di poster hingga dilembaran uang, berwajah garang, memakai baju bak bangsawan, danĀ  hanya menggunakan sanggul dikepalanya? Jujur saya juga tidak tahu siapa yang membuat gambar tersebut, dan dari mana orang tersebut terilhami untuk menggambar seorang Cut Nyak seperti itu, apakah pernah melihat langsung? Atau hanya berdasarkan imajinasi belaka?

Semua kita tahu, setelah suami Cut Nyak, Teuku Umar di Meulaboh gugur di tembak Belanda, perlawanan rakyat Aceh diambil alih oleh Cut Nyak, dan saat itu pula beliau terus bergerilya dengan pasukannya di pedalaman Aceh. Jadi, jangankan fotografer, Belanda saja tidak pernah bisa mendekati beliau.

Cut Nyak

Satu satunya foto Cut Nyak yang kita punya adalah ketika beliau “berhasil” ditangkap oleh Belanda, dan ketika hendak diasingkan ke Sumedang, dalam keadaan buta, dengan wajah menunduk, beliau diambil gambarnya. Harus kita akui bahwa saat itu rambut beliau terlihat, tapi ija sawak beliau masih melingkar disana. Kuat dugaan beliau sengaja difoto demikian oleh Belanda untuk menurunkan martabat beliau, wallahu A’lam

Kembali ke pertanyaan semula, apakah Cut Nyak Dhien berjilbab semasa hidupnya? Kami orang Aceh yakin dengan seyakin yakinnya bahwa beliau adalah orang yang berilmu dan tahu betul dengan kewajibannya sebagai perempuan untuk menutup auratnya. Mungkin bukan dalam bentuk jilbab, tapi dengan kain apa saja yang umum digunakan saat itu untuk menutup aurat. Dan bukankah untuk menutup aurat tidak harus hanya dengan jilbab? tetapi boleh dengan mukena, kain sarung, bahkan dengan goni sekalipun, yang penting tujuannya adalah untuk menutup aurat, tidak hanya bentuk, tetapi warna dan lekuknya. Wallahu A’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s