Kalender Aceh, Masihkah Ada Yang Ingat?

Pernah tahu atau pernah dengar kalau Aceh (pernah) punya kalender? Selain kalender Geogian dan kalender Arab yang sering kita dengar, apa saja kalender yang kita gunakan? Kalender Cina? Kalender Jawa? Mungkin selama ini kita hanya terbiasa dengan kalender masehi. Tapi pernahkan kita tahu kalau Aceh juga (pernah) punya kalender sendiri? Mungkin sedikit yang sadar tentang hal ini, bahkan orang Aceh sekalipun. Padahal kalender ini sudah lama dipakai, lengkap dengan nama-nama bulan yang khas Aceh. Hal ini setidaknya terungkap dalam diskusi yang saya ikuti pagi tadi di aula kantor walikota Banda Aceh. Acara yang diinisiasi oleh kawan kawan MIT ini sejujurnya sangatlah menarik, walau dalam persiapan mereka hampir tidak punya bantuan dana sama sekali!

Diskusi Kalender Aceh

Terus, kenapa Kalender Aceh jadi penting?

Dari pemaparan para pemateri tadi, banyak sekali hal yang terungkap, tidak hanya tentang kalender Aceh dan hubungannya dengan tatanan budaya masyarakat kita, tetapi juga tentang hubungan sejarah Turki dengan Aceh, Hubungan Ka’bah dengan Aceh, selanjutnya juga tentang sufi wanita Aceh yang menulis syair-syair indah yang menurut pemateri, tidak kalah hebat dibandingkan dengan karya Rabiah Adawiyah.

Kalender Aceh sebenarnya sudah dipakai sejak kerajaan Aceh berdiri, sekitar abad ke – 14 dan sangat kuat pengaruhnya dengan kalender hijriah yang dipakai oleh masyarakat islam pada umumnya saat itu. Bahkan bisa dikatakan kalender ini adalah kalender hijiriah versi Aceh, karena memang penyebutan bulan dan hari harinya dalam bahasa Aceh. Bulan satu dikenal sebagai “beluen hasan husen”, bulan kedua disebut “sapha”, selanjutnya molod (3), adoe molod (4), molod akhe (5), boh kayee (6), khauri apam (7), Khauri bu (8), puasa (9), uroe raya (10), meapet (11), haji (12).

Bila diperhatikan lebih detil, kesemua nama bulan tersebut erat kaitannya dengan perayaan agama islam, atau dengan budaya Aceh. Bulan ke 9 misalnya disebut buleun puasa dalam bahasa Aceh, karena memang dalam kalender hijrian itu adalah bulan ramadhan, dimana umumnya bangsa Aceh yang beragama islam melaksanakan ibadah puasa. Sedangkan bulan ke – 6 disebut buleun boh kayee, karena biasanya pada bulan tertsebut sedang musim panen buah buahan, sehingga bulan tersebut dinamakan demikian.

Menarik juga membahas tentang bulan pertama, hasan husen, apakah ini ada kaitannya dengan syiah? Menurut pemateri, pemberian nama hasan husen sebagai nama bulan dalam kalender Aceh sama sekali tidak ada hubungannya dengan kaum syiah, terbukti dalam praktik ibadat dan kepercayaan islam rakyat aceh yang sama sekali tidak sama dengan keyakinan atau cara ibadat kaum syiah. Pemberian nama tersebut tidak lebih dari penghormatan kepada kedua cucu nabi, tidak lebih.

Selain nama bulan, nama hari dalam bahasa aceh juga sudah terasimilasi dengan bahasa aceh, hari ahad (arab) menjadi aleuhad dalam bahasa Aceh, senin menjadi seunayan, selasa jadi seulasa atau lasa, rabu tetap rabu, kamis menjadi hameh, jumat menjadi jumeuat, sabtu menjadi satu.

Yang menarik dan ikut diperbincangkan tadi adalah awal nama hari senin yang dalam bahasa Aceh disebut seunayan. Katanya ada kemungkinan seunayan ini berhubungan dengan senayan yang ada di Jayakarta (Jakarta dulu). Seperti kita tahu bahwa nama jaya karta diberikan oleh Fatahillah ketika beliau berhasil menaklukkan kota tersebut. Nah, oleh masyarakat Aceh, Fatahillah juga dikenal sebagai teuku chik Digertoe. Jadi, jaya karta bisa saja berasal dari ucapan “ureung keurto ka jaya” (orang keurto sudah berjaya). Keuto itu sendiri merupakan nama daerah di Aceh. Nah, karena senayan saat itu juga menerapkan hari senin sebagai hari pekan, budaya tersebut juga sampai di aceh, sehingga orang aceh menyebut naman senayan sebagai hari pekan atau hari senin. Untuk diketahui, banyak daerah di Aceh yang menjadikan hari senin sebagai hari pasar (uroe pekan). Pasar seulimum bisa jadi sebagai contoh dimana hari senin selalu jadi uroe peukan, hingga sekarang

Kalender Aceh dulu pernah berperan besar dalam pemerintahan dan keseharian bangsa (masyarakat) Aceh. Berbagai kegiatan budaya msyarakat juga terafiliasi dalam kalender Aceh. Kini kalender ini sepertinya hanya menjadi sejarah, hampir dilupakan, alias tinggal kenangan. Semoga acara yang di inisiasi oleh kawan kawan MIT (Masyarakat Informasi Teknologi) dan Institute peradaban Aceh ini bisa kembali menjadi titik awal untuk mengbangkitkan kembali kekayaan yang pernah kita punyai, seperti kata seorang pemateri, “kita ingat masa lalu untuk membangun Aceh kedepan yang lebih baik), semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s