Arisan WC

“Dari mana Cupo bawa-bawa ember kecil segala?” tanya saya pada seorang wanita paro baya yang baru dari belakang rumah mertua saya.

“Biasa, dari kantor, melapor!” jawabnya sambil berlalu.

Kantor? Melapor? Saya bingung sendiri dengan jawaban si Cupo (Cupo adalah istilah dalam Bahasa Aceh yang berarti kakak). Hari masih pagi, saya sedang duduk-duduk di teras sambil menikmati udara Tangse yang dingin. Waktu itu saya dan istri sedang berlibur di kampungnya yang terletak di Tangse, Pidie, Aceh.

Penasaran dengan kantor yang disebutkan Cupo, saya pun mengkonfirmasi ulang pada istri. Perasaan di belakang rumah mertua saya tidak ada kantor apapun melainkan persawahan yang langsung berbatasan dengan bukit barisan.

“Kantor itu maksudnya kakus, Bang. Melapor itu buang hajat. Orang di sini memang sering pake istilah itu.” jelas istri saya. saya hanya ber”O” panjang mendengar penjelasannya.

“Memangnya ada kakus di belakang rumah? Perasaan Abang Cuma ada sawah.” Selama ini saya mengira orang-orang yang berlalu-lalang ke belakang rumah kami adalah mereka yang hendak ke sawah.

Istri saya pun mengajak saya ke belakang dan menunjukkan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari papan bekas dan berlubang di sana-sini. “Ini dia kantor tempat mereka melapor, Bang! Nama kantornya WC terbang.”

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kenyataan di depan saya. Menurut penjelasan istri, warga kampungnya adalah petani miskin yang kebanyakan tidak mampu membuat WC permanen sehingga tidak sedikit dari mereka yang BAB selokan kecil seperti ini.

Saya tiba-tiba teringat dengan sebuah desa tempat saya melakukan bakti sosial saat kuliah dulu. Desa itu terletak Kabupaten Bener Meriah. Kondisi desa itu tidak lebih baik dari kampung halaman istri saya, tetapi memiliki sanitasi yang bagus. Setiap rumah di sana memiliki WC. Mereka membangun tempat buang air besar itu dengan cara arisan.

***

Hari itu adalah hari terakhir saya dan teman-teman melakukan bakti sosial di Dataran Tinggi Gayo itu. Karena tidak ada lagi kegiatan, saya dan teman-teman menghabiskan waktu dengan berkeliling kampung sambil mencari warung kopi. Ngopi langsung dari tempat asal kopi Arabica dihasilkan pasti menghasilkan sensasi yang berbeda.

Kami pun memutuskan untuk menyeruput segelas kopi hitam di warung yang terbuat dari kayu. Seorang perempuan paruh baya berdiri dekat pintu dan mempersilahkan kami masuk. Warung itu terlihat sepi.

“Dari Banda Aceh ya, Nak? KKN di sini?” tanya sang ibu ramah.

“Iya bu, tapi bukan KKN, cuma bakti sosial 2 hari. Hari ini selesai dan kami mau balik ke Banda,” jelas seorang kawan saya.

Sang ibu pun menyajikan kopi pesanan kami. Enam gelas kopi ia bawa dengan hati-hati. Lalu ia pun duduk tidak jauh dari tempat kami.

“Kalau bakti sosial itu apa sama kayak KKN? Kampung kami kenapa tidak ada, terakhir ada mahasiswa 10 tahun lalu”, jelasnya panjang lebar dan bersemangat.

“Kalau KKN kan lama, Bu. Ini cuma 2 atau 3 hari, kegiatannya paling seperti sunatan massal, penyuluhan kesehatan, pengobatan, itu saja,” jelas kawan saya lagi.

“Oh, ada sunatan juga ya? kalau anak Ibu perempuan semua, sudah nikah juga. Tamat SMP nikah terus kemarin,” jelasnya disertai senyum

Memang di daerah ini, angka putus sekolah masih tinggi dan banyak sekali yang menikah di usia muda. Saat saya dan teman-teman melakukan penyuluhan, kami kaget karena kami pikir yang datang anak SMP atau anak SMA, tapi ternyata mereka sudah berkeluarga dan punya anak.

“Kalau penyuluhan apa saja Anak yang suluh?” tanya ibu itu lagi.

Kali ini giliran saya yang mengambil kesempatan untuk menjawab, “Banyak juga, Bu. Ada masalah kesehatan, masalah penyakit seperti kudis yang masih banyak disini, kaki gajah, juga tentang sanitasi seperti WC sehat, cara cuci tangan dengan sabun, serta pengolahan makanan.”

“Kami ingin juga lah penyuluhan seperti itu,” ucap Ibu itu penuh harap.

Mendengar ucapan sang ibu, kami hanya diam. Lalu seorang kawan mencoba menjelaskan bahwa kami sebenarnya sangat senang memberikan penyuluhan, warga di kecamatan ini juga sangat antusias bertanya. Namun, karena waktu kami yang terbatas sehingga keinginan sang ibu tidak dapat kami penuhi. “Mungkin tahun depan kami usahakan, Bu.” jelas si kawan.

“Bu, kalau warga disini buang hajatnya dimana? apa sudah punya WC?” tanya saya untuk mengalihkan perhatian.

“Kalau desa kita, Nak, sudah lumayan. Lebih setengahnya sudah punya WC. Walau rumahnya rumah kayu, kami buat WC di luar,” jawab ibu itu penuh antusias.

Mendapatkan jawaban seperti ini, rasa penasaran saya bertambah. Informasi yang disampaikan ibu itu berbanding terbalik dengan apa yang dipaparkan oleh pihak kecamatan saat pembukaan acara bakti sosial. Menurut mereka, kurang dari 10% penduduk di kecamatan itu punya WC yang layak, sedangkan sisanya masih berbagi dengan alam, alias buang hajat di tempat terbuka, baik di kebun atau di sungai.

Penasaran dengan informasi yang disampaikan si ibu, saya kembali bertanya tentang bagaimana mereka bisa punya banyak WC di rumah. Apa mereka orang kaya? Pegawai negeri? Atau berpendidikan tinggi? Lagi-lagi si ibu memberikan informasi yang membuat saya dan teman-teman terkejut. Umumnya penduduk desa mereka adalah petani kopi dan hanya 2 orang yang pegawai negeri. Pendidikan mereka juga umunya rendah. si ibu mengaku hanya tamat SD dan langsung menikah.

“Kami buat WC pakai julo-julo atau arisan. Sistem arisannya sama seperti arisan biasa. Bedanya, siapa yang kena wajib membuat WC, tidak boleh beli keperluan lain kecuali keadaannya mendesak,” jelas ibu itu. Mendapatkan jawaban ini, kami saling berpandangan, betapa pelajaran seperti ini belum pernah kami dengar di bangku kuliah.

“Idenya dulu dari istri Pak Kades. Dia kan pernah ke Banda, pernah kuliah juga, tapi entah lulus. Yang pasti sekarang kerjanya sama kayak kami, ke kebun. Dia yang punya usul, bagaimana kalau kita buat arisan yang uangnya dipakai untuk bangun WC. Soalnya dulu semua warga di sini buang hajatnya di sungai. Sering kita mandi dan nyuci di bawah, di atas ada yang buang hajat. Kadang pas lagi mandi harus nunggu dulu kotoran lewat.” Mendengar penjelasan ini membuat kami tertawa.

“Nah, dari situ muncul ide, bagaimana kalau uang arisan itu dipakai untuk beli bahan buat WC saja. Kalau tanah kan gak masalah di sini. Orang kampung tanahnya kan luas. Uang banyak habis buat beli semen atau bahan lain, kalau pasir ada di sungai.”

“Kalau biaya tukang bagaimana, Bu? Itu kan mahal juga?” tanya seorang kawan.

“Kalau untuk itu kami gotong-royong. Kan banyak bapak-bapak yang juga bisa jadi tukang. Bayarnya juga bukan pakai uang, tapi pakai petik kopi. Kayak suami saya kan juga bisa tukang, waktu dia buatnya WC si A, setelah selesai, dia bantu petik kopi di kebun kami.”

Mendengar penjelasan ini, sekali lagi kami terpukau. Betapa semangat gotong-royong dan saling membantu bisa membuat sesuatu yang tampak sulit menjadi begitu gampang. Tidak hanya gampang, ide mereka membangun WC secara arisan dan biaya pembangunan dibayar dengan jasa petik kopi terlihat begitu kreatif, tak pernah terpikirkan sebelumnya oleh kami.

“Kalau uang arisannya berapa per orang? Apa cukup untuk buat WC?” tanya saya lagi.

Ibu itu lalu beranjak masuk ke dalam rumahnya dan mengambil sebuah buku catatan. Buku itu diletakkan di depan meja saya. Saya melihat nama-nama perserta arisan dan kewajiban bayar per minggu masing-masing orang.

“Satu orang bayarnya 50 ribu perminggu, sebulan kan ada 200 ribu. Nah kita kan ada 30 orang lebih, jadi sekali tarik bisa 6 juta. Itu udah lebih dari cukup itu untuk beli semen sama beli dudukan toilet. Kalau cincin juga bisa buat sendiri, kan? asal ada semen.” jelas ibu itu dengan semangat. Cukup masuk akal memang, menurut informasi dari teman saya yang seorang sarjana teknik sipil, biaya pembuatan WC yang sederhana saja bisa menghabiskan dana sekitar 10 juta termasuk ongkos tukang. Kalau tukangnya sudah bayar dengan cara petik kopi, jadinya uang 6 juta sekali sudah cukup.

“Saat ini ada 20 WC yang sudah siap. Ada juga yang sudah duluan punya WC, jadinya dia pakai uang untuk nikahin anaknya.”

Ingin rasanya berlama-lama duduk di warung sederhana ini sambil mendengar cerita sang Ibu, tapi hari itu saya dan teman-teman harus kembali ke Banda Aceh yang jaraknya lumayan jauh. Sisa kopi di gelas segera kami habiskan. Kami pun berpamitan dengan si Ibu yang telah memberikan pelajaran yang cukup bermakna. Untuk membangun sanitasi yang baik bagi masyarakat ekonomi kelas bawah, bisa dilakukan dengan nilai budaya yang sudah mengakar di bangsa kita, yaitu semangat gotong royong dan semangat kebersamaan.

Semoga saja masyarakat di kampung istri saya pun memiliki ide yang cemerlang untuk mengatasi keterbatasan WC ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s