Mengenal Konsep Pajak di Indonesia

Oke, kali ini saya duduk dengan seorang kawan yang ahli perpajakan, karena saya gak pernah bayar pajak, jadinya saya tidak tahu banyak tentang pajak di Indonesia. Oh ya, saya tidak bayar pajak bukan karena mau menghindar dari kewajiban ya, tapi memang income saya saat ini belum termasuk dalam batasan wajib pajak. Beberapa kali saya tanya ke dia, katanya gak perlu urus MPWP karena memang jatahnya saya masih sebagai mustahik zakat, eh mustahik pajak (penikmat pajak :))

Oke, apa itu pajak?

Pajak merupakan iuran wajib bagi warga negara yang manfaatnya tidak dirasakan langsung atau diterima langsung oleh pembayar pajak, namun iuran tersebut digunakan untuk kelangsungan negaranya. Contoh gampangnya gini: misalnya anda sopir angkot, anda kan narik penumpang, dari penumpang itu anda dapat bayaran, nah, kalau dikumpulkan salam sebulan atau setahun, pendapatan anda mencapai batasan tertentu, anda punya kewajiban terhadap negara berupa pajak dari pekerjaan anda tadi sebagai sopir, uang yang anda bayar akan digunakan oleh negara untuk membuat jalan, jembatan, dan sebagainya, yang secara tidak langsung bermanfaat bagi anda sebagai sopir, dan orang lain sesama warga.

Nah, ilustrasi diatas adalah contoh dari pajak penghasilan. Selain pajak penghasilan, banyak sekali jenis jenis pajak yang ada di Indonesia, diantaranya:  pajak pertambahan nilai (PPN), pajak bumi dan bangunan (PBB), Bea dan Cukai, Pajak Daerah seperti pajak sampah, surat izin tempat usaha (SITU), pajak iklan, pajak hotel, retribusi parkir, dan pajak preman, eh ini gak termasuk 🙂

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan atas tamabahan penghasilan atau kekayaan dari wajib pajak orang prbadi atau badan usaha. Penghasilan itu diartikan “setiap tambahan penghasilan yang berupa gaji, komisi, keuntungan usaha (seperti contoh usaha sebagai sopir diatas), bonus, royalti, dan lain lain”. Objek penghasilan secara umum dibagi 2: objek penghasilan kena pajak, dan objek penghasilan tidak kena pajak (horeee). Contoh yang kena pajak adalah gaji, atau keuntungan perusahaan. Sedangkan contoh objek keuntungan yang tidak kena pajak misalnya sumbangan rumah bencana, dan pemberian harta atau uang atas hubungan kekeluargaan. Misalnya dikasi uang sama pacar, itu gak perlu bayar pajak, walaupun uang yang dikasi bisa beli Mobil dua biji, tetapi tetap gak kena pajak (mana pacar saya?)

Kalau korban Tsunami di Aceh misalnya yang dapat rumah bantuan, mereka juga gak kena pajak, walau rumah itu dianggap sebagai penambahan penghasilan, sebaliknya kontraktor yang mengerjakan rumah tersebut wajib bayar pajak (bilang tu sama kontraktor saat tsunami dulu).

Kemudian Pajak Pertambahan Nilai (PPN), ini dia si biang keladi kenapa harga barang mahal. Karena gara -gara ada pajak ini, harga barang naik atau bertambah. Contohnya begini: misal si A membuat kursi dengan harga dasar (sebelum PPN ) adalah 100 ribu. Kemudian karena dia wajib PPN, maka dia harus menambahkan PPN ke harga tersebut, sehingga harga jual kursi tersebut menjadi 110 ribu rupiah (besar PPN di Indonesia 10%). Bayangkan ketika distribusi kursi tersebut panjang, berpndah dari produsen ke pemakai akhir, berapa kali penambahan 10% yang terjadi? Hehehe, (gak sanggup itung saya), tidak heran harga barang mahal kan? Makanya mending beli langsung d pabrik ya.

Selanjutnya Pajak Bumi Bangunan (PBB). Pajak ini dikenakan atas harga atau taksiran harga atas bumi dan bangunan yang dimiliki atau dikuasai atau disewagunakan atau perjanjian lainnya. Kecual fasilitas umum seperti Mesjid, Jalan, Halte, Rumah sakit pemerintah, Kuburan dan MCK, itu tidak kena pajak :). Intinya PBB ini seperti iuran tahunan atas tanah dan apa apa saja yang ada di tanah (kalau orang beol diatas tanah kena pajak gak ya?, hehe)

 Bea dan Cukai, nah ini dia yang bikin ahlul hisap suka protes, karena harga rokok melambung tinggi. Bea berbeda dengan cukai. Bea artinya tarif keluar masuk barang antar negara, kalau cukai adalah tarif atas barang barang yang dianggap berbahaya untuk masyarakat, seperti rokok atau tembakau, ganja, eh, ganja belum disahkan hehe.

Jadi sebenarnya saya berterima kasih kepada ahli hisap tadi, karena secara tidak langsung mereka sudah menyumbang banyak terhadap negara, tetapi disaat yang sama saya juga icas sama mereka, karena suka merokok sembarangan.

Nah, bagaimana dengan barang mewah seperti ipad atau hape mahal yang beli di luar negeri dan dipakai sendiri di Indonesia? Bagaimana juga jika barang tersebut kemudian di jual? Itu ada lagi peraturannya, tapi karena kopo sudah habis, si kawan sudah tak mau cerita lagi.

Terakhir, tentang pajak sampah, SITU dan lain-lain, saya rasa sudah cukup paham kan? Sedangkan pajak preman yang tak resmi tetapi masih saja ditemui di berbagai tempat, sebaiknya mulai harus dihilangkan. Semoga!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s