Beda Negara Maju Dengan Negara Belum Maju

Cara membedakan negara yang sudah makmur dengan negara yang masih miskin sebenarnya sangat gampang, tinggal datang saja ke Bandara yang ada di negara tersebut, dan perhatikan beberapa hal berikut:

1. Pengantar penumpang: negara maju umumnya penumpang pergi sendiri ke bandara, bisa naik kendaraan umum, kereta bandara, naik taksi atau bawa mobil sendiri, kalaupun ada yang diantara keluarga itupun sedikit jumlahnya, karena memang mereka sudah sering ke bandara sehingga tidak harus “berwisata” disana. Selain itu mereka juga sibuk bekerja, jadi tidak mau membuang-buang waktu untuk mengantar orang yang kadang hanya pergi sehari keluar kota.

Sebaliknya negara yang masih belum maju, bandara dipenuhi oleh pengantar, okelah jika yang diantar perginya lama, tapi kenapa juga harus sekampung ngantarnya? Pakai bawa rantang dan buat lesehan disana? Tidak salah sih, tetapi apa tidak sebaiknya waktu tersebut digunakan untuk sesuatu hal yang lebih produktif, dibandingkan berwisata di tempat yang sebenarnya bukan tempatnya?

2. Tansportatsi umum-massal: memang ini bukan tanda pasti apakah bandara tersebut terlelat di negara maju atau berkembang, tapi bandara di negara maju umumnya sudah dilengkapi dengan alat transportasi umum yang memudahkan mobilisasi penumpang. Sebaliknya bandara di negara belum maju masih sangat tergantung pada kendaraan pribadi, kendaraan sewa, hingga taksi gelap, bus gelap, walau kendaraan berwarna terang.

Di negara maju, ketika kita keluar dari bandara setelah ambil bagasi, kita tinggal mengukuti pentunjuk yang ada, mau naik taksi, bus, atau kereta. Tujuan dan ongkos masing masing alat transportasi tersebut juga tertulis jelas. Jika memilih naik bus atau kereta, tinggal beli tiket dan masuk kedalam, kalau naik taksi, kita tinggal memanggil taksi yang parkir dari jauh, tidak perlu takut taksi gelap, karena semua terang, masalah harga, kadang ada yang memberi patokan minimal, tapi umunya pakai kargo, dan tak perlu di bawa main, karena pakai GPS, aman.

Sebaliknya di negara yang belum mau maju, setiap kita keluar bandara, maka kita menjadi artis sesaat, banyak sekali yang mencoba menjual jasa, menyapa, dan menawarkan taksi atau ojeknya. Sering setelah kita bilang tidak, mereka justru tambah nekat, terus mendekat, mau marah percuma, karena yang itu pergi, yang lain mendekat, mau marah sampe puluhan kali dalam 10 menit?

Jika yang menawarkan jasa adalah perusahaan resmi seperti damri, taksi, atau bus antar kota, saya sangat maklum, tapi yang tidak jelas, plat hitam juga ikut nimbrung, bukankah ini namanya pelanggaran? Kenapa dibiarkan?

3. porter: ini merupakan ciri khas dari bandara negara berkembang, tukang angkat bagasi. Jujur saya belum pernah menemukan profesi ini di negara maju, tapi di dalam negeri, sepetinya mereka sudah punya asosiasi yang kuat. Bukan tidak setuju dengan kehadiran mereka, tapi saya lebih suka mandiri dan sangat tidak nyaman ketikan ada yang menawarkan barang saya diangkat. Saya masih sehat dan sanggup dorong sendiri kok. Dulu memang keberadaan mereka dalam bandara begitu bebas, tapi sekarang umumnya sudah dilengkapi dengan seragam, bahkan ada nama dan nomornya segala, sehingga kita tidak perlu khawartir kehilangan barang. Tapi sering keberadaan mereka membuat trolley yang tersedia menjadi terbatas, sudah duluan di “occupy” mereka. Padahal kita tahu trolley bandara adalah layanan yang wajib tersedia, toh kita sudah membayar layanannya saat membeli tiket atau lewat airport tax bukan?

Saya sering bertanya, dengan banyaknya pekerja sektor informal seperti ini, bagaimana penghasilan mereka? Apakah untung untungan juga? Cukup untuk kebutuhan sehari-hari? Hmmm

4 Bintang Iklan: Kepala Daerah

oh iya, ada satu hal lagi yang khas dan sering saya temui di negara yang katanya masih berkembang adalah seringnya kepala daerah menjadi bintang iklan.

Jika dingara maju, iklan atau poster umumnya dibintangi oleh artis profesional, dan sangat jarang oleh orang pemerintah, walaupun yang diiklankan adalah program pemerintah. Mereka hanya menulis apa adanya, apa targetnya dan apa yang diharapkan dari masyarakat, bukan siapa dibelakang iklan tersebut.

Sebaliknya di negara berkembang, iklan komersil memang dibintangin oleh professional, sedangkan “iklan layanan masyarakat” sepertinya kurang biaya untuk bayar artis, sehingga sangat sering kepala daerah yang sedang berkuasa yang menjadi bintangnya. Tidak hanya foto yang tertempel lebar disepanjang jalan, pesan pesan yang tertulis diiklan juga mengisyarakatkan seolah-olah mereka memang benar benar bekerja untuk masyarakat. Foto kepala daerah dan wakilnya terpampang di berbagai sudut kota seperti sebuah kewajiban, entah gimana ya perasaan mereka saat melihat fotonya melebar begitu? Lagian kalau mau kerja kenapa harus pamer ya? Atau memang benar-benar gak ada dana buat cari artis? Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s