Ghost Author Tidak Dikenal di Jerman?

Ghost author tidak dikenal di Jerman, setidaknya, itulah kesan yang saya dapatkan hari ini. Ghost author merupakan istilah terhadap author atau penulis dari sebuah jurnal ilmiah yang dalam proses perancangan penelitian, pengumpulan data atau penulisan laporan tidak ikut terlibat. Dia semata mata dimasukkan dalam salah satu penulis karena keahliannya atau karena namanya.

Bagi para dosen, peneliti atau akademisi, publikasi ilmiah adalah sebuah kewajiban. Publikasi ini bermacam jenis bentuknya, mulai review, short report, meta-analisis hingga yang paling sering, artikel laporan penelitian. Nah, untuk bisa memperoleh artikel penelitian ini, orang tersebut tentu harus meneliti sebelumnya. Penelitian ini bisa dilakukan sendiri sendiri, tapi lebih sering dala  kelompok. Universitas di Jerman umumnya punya begitu banyak Forschunggruppe atau group penelitian. Group group ini meneliti topik yang sesuai dengan bidangnya. Akne forschunggruppe misalnya, terletak dibawah departement kulit tapi hanya meneliti tentang jerawat.

Saat melakukan penelitian, anggota group ini punya tugas masing-masing, ada yang bertugas menulis, mengumpulkan data, menganalisa data hingga menulis laporan. Urutan penulisan nama di artikel yang dipublikasi juga biasanya berdasarkan besarnya beban pekerjaan dalam penelitian tadi, yang menganalisa dan menulis laporan biasanya menjadi first author atau penulis utama, sedangkan yang bertanggung jawab atau yang supervisi seluruh proses penelitian, biasanya ketua group, namanya di urutan terakhir. Tugas dan tanggung jawab masing masing author juga biasanya ditulis pada artikel yang dipublikasikan.

Para peneliti umumnya mau penelitian mereka dipublikasi di jurnal yang rangkingnya tinggi, sayangnya untuk bisa dipublish dijurnal seperti ini, penelitiannya harus benar-benar punya kualitas yang tinggi, dan anggota yang meneliti juga harus punya nama besar. Nah, untuk bisa mudah mempublikasikan sebuah artikel, kadang ada yang mengundang seseorang yang punya nama, biasanya profesor ahli, untuk masuk dalam tim penulis. Dengan adanya nama si profesor tadi, biasanya mempermudah penerimaan sebuah artikel. Profesor ahli inilah yang serinf disebut sebagai Ghost Author.

Meski artikel yang mau kami publikasi tidak membutuhkan ghost author, tapi tim kami membutuhkan komentar atau saran dari seorang professor yang selain ahli dalam bidang tersebut, beliau juga ketua departement dimana group kami bernaung. Ketika menjumpai beliau tadi dan menjelaskan tentang temuan dari penelitian serta saran yang kami butuhkan dari beliau, saya juga mengundang beliau menjadi salah satu author, pertimbangannya tentu saran yang beliau berikan, dan juga posisi beliau yang menjadi supervisor forschung group kami. Ketika saya jelaskan hal tersebut, beliau langsung menyela, “ya saya akan baca, akan pelajari dan akan berikan komentar sesuai kapasitas saya, tapi saya tidak bisa terlibat dalam sesuatu dimana saya tidak disana saat penelitian ini dirancang” , jelas beliau. Memang saat kami merancang penelitian ini, beliau tidak ditempat, dan saat prosesnya, beliau juga tidak pernah terlibat.

Mendengar penjelasan ini, saya jadi meu asek ulee, gimana kejadiannya di negara kita ya? Kalau ada yang mengajak terlibat gratis dalam publikasi, apa akan ada yang menolak karena alasan moral seperti diatas? Atau malah akan mengajukan diri karena merasa berhak dengan alasan posisinya sebagai “atasan” atau “orang tua”? Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s