Apakah Aceh Sudah Merdeka?

Setiap membaca surat kabar online dari Nanggroe, beritanya tidak jauh jauh dari aksi demostrasi, ribut antar pendukung golongan ini, protes suatu kelompok karena kelompk lain tidak sudi lahan atau periuk nasinya di rebut, bahkan yang paling parah seperti aksi pelemparan bus dan sebagainya.

Pertanyaannya adalah, kenapa semua itu bisa terjadi? Banyak teori atau hipotesa yang bisa di masukkan dalam list untuk menjawab pertanyaan tersebut, tapi semuanya saya rasa berujung pada sebuah permasalahan: tidak punya kerjaan.

Dalam Bahasa Aceh, tidak punya kerjaan dikenal juga sebagai hana buet. Tamsilan efek “mengganggu” dari hana buet ini sudah disebutkan dalam bahasa aceh “hana buet, cok peulaken cilek bak pruet, woe bak mak you rhah, woe bak yah you uet”, betapa orang yang tidak punya kerjaan sering melakukan sesuatu yang tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga meresahkan orang lain.

Ambil contoh aksi pelembaran bus yang masih marak terjadi. Kenapa segerombolan anak muda mau melempar bus yang sedang melintas, apakah mereka tidak tahu bahayanya? Bagaimana jika didalam bus itu ada keluarga mereka? Apa mereka tidak tahu betapa meruginya pemilik dan penumpang bus? Saya yakin mereka tahu, terus kenapa juga mereka masih melempar? Punya dendam? Atau justru tidak pernah di ajarkan orang tua untuk berbuat baik dan tidak merugikan orang lain?

Saya yakin, sebejat bejatnya perilaku manusia, dia masih bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik, dan jika dia sudah tidak bisa membedakan lagi antara hal yang baik dan tidak baik, tempatnya pun bukan di penjara, tetapi lebih cocok di rumah sakit jiwa.

Jika mereka tahu itu tidak baik, kenapa juga masih dilakukan? Jawabannya ya hana buet tadi. Karena hana buet, mereka mencari gara gara, yang dalam tamsilan tadi disebut peulaken. Setelah mereka lempar, pasti mereka melarikan diri, merasa bangga, senang? Atau takut?`wallauhu a’lam, yang pasti setelah itu banyak orang yang harus susah karena harus menyelesaikan masalah tadi. Pihak bus harus mengganti kaca bus, polisi harus membuat investigasi, dan kita penumpang juga harus was was setiap mau naik bus.

Nah, bagaimana bisa mereka sampai hana buet? Menjawab hal ini, kita sudah masuk ke ranah sistem pendidikan, ekonomi, dan politik negara kita. Meski masalah ekonomi dan politik berperan besar, saya lebih suka mengomentari masalah pendidikan, yang memang lebih saya kuasai dibandingkan dua hal itu.

Apa hubungan lempar bus dengan pendidikan? Mungkin kisah cet langet ini bisa menjawab. Bayangkan jika si pelempar bus itu waktu sekolah dulu tidak suka matematik dan tidak suka juga menghafal pelajaran seperti banyak kasus cara mendidik sekarang, dia hanya suka menggambar. Bayangkan jika para guru mau mendorong si anak untuk berfikir dan melakukan sesuatu yang kreatif. Jika memang dia punya keahlian menggambar, suruh saja si anak menggambar tiap hari, kalau mau, suruh dia untuk membuat komik sekalian. Jika setiap hari saja dia menggambar satu lembar saja, lulus SMA dia sudah punya sebuah komik yang bisa dia jual dan mendatangkan uang. Nah, kalau dia bisa menggambar dan membuat komik, setiap malam pasti waktunya dihabiskan di meja gambar, bukan nongkrong di samping jalan, pegang batu dan lempar bus ketika lewat. Kalau dia bisa produktif dengan cara menggambar ini, perlukah di anak dipaksa menghafal pelajaran? (coba pikir, 5 juta penduduk aceh, belum ada satu komik pun yang dibuat?, kalaupun ada, masih sangat terbatas)

Seandainya ada siswa yang tidak bisa menggambar, tidak bisa matematik, benci semua pelajaran, dan hanya hobi membaca novel; suruh saja si anak untuk membaca novel sebanyak banyaknya, kemudian minta dia untuk membuat resume. Setelah dia paham dengan novel, ajarkan dia menulis, dan menulis. Bayangkan jika dia natinya bisa menjadi penulis yang baik dan produktif, sangat kecil kemungkinan dia mau menghabiskan waktu untuk ikut ikutan demo sesuatu yang tidak penting baginya.

Jika juga anak yang tidak suka apapun, hobinya hanya main gadget dan selalu update dengan handphone atau gadget terbaru, biarkanlah dia dengan kesukaannya tersebut jika memang orang tuanya mampu untuk memenuhi keinginan si anak. Jika si anak benar benar tahu tentang spesifikasi, cara kerja dan fungsi dari gadget tadi, minta dia untuk mereview, menceritakan dan menjelaskan tentang gadget. Rekam semua penjelasan, upload di youtube dan jika memang yang dia bagus dalam menjelaskan, orang akan menonton dan dia juga akan dapat uang dari google. Kini malah banyak orang yang banting profesi jadi reviewer gadgets dan pendapatannya kadang jauh lebih banyak dibandingkan kerja kantoran. Nah, kalau si anak tadi sibuk dengan mempelajari semua gadgets yang baru dikeluarkan untuk dia review, akankah dia punya waktu untuk ribut ribut dengan tetangga? Sangat kecil kemungkinannya.

Nah, balik lagi ke topik, seharusnya kita mempersiapkan generasi setelah kita dengan kemampuan yang mereka butuhkan untuk hidup dizaman mereka nanti, bukan berdasarkan kebutuhan dizaman kita pernah hidup atau dizaman kita hidup sekarang ini. Pendidikan tidak boleh lagi terpaku dengan menghafal dan menghukum, tidak boleh terbatas pada formalitas hadir dikelas tetapi si anak tidak mendapatkan apapun dari kehadirannya tersebut. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang menyiapkan seseorang untuk hidup lebih baik, dengan cara yang baik dan tidak merusak lingkungannya.

Jika semua orang di Aceh bisa perfikir dan perprilaku produktif, kita tak perlu lagi sibuk cari investor, karena investasi yang paling baik ada pada pemuda. Tugas kita hanya mendidik mereka dengan pendidikan yang produktif, dan itulah sebenarnya makna sebuah kemerdekaan. Sudah Merdeka Aceh?

Advertisements

4 thoughts on “Apakah Aceh Sudah Merdeka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s