Selamat Jalan Guru Kami*

Sebuah Catatan!

Oktober 1998, Bed Merah!

Lelaki paruh baya itu berdiri didepan kami, dia melempar senyum ke penjuru kelas, kami hanya terdiam. Bajunya rapi, sepatunya hitam mengkilat, rambut belah tengah – sedikit kesamping membuat kesan lelaki layak di hormati.

“combustio, ini artinya luka bakar”, sebutnya sambil menulis “combustio” di papan putih depan kelas. “kalau commotio cerebri, itu artinya geger otak”, sebutnya lagi sambil kembali menulis. Ketika bebalik menghadap ke kami, ibu jari dan jari telunjuknya menghapus pinggir mulutnya, perilaku yang sangat identik dengannya.

Combustio dan commotio cerebri, itulah dua kata yang saya ingat setelah beberapa lama belajar di sekolah perawat, kedua kata kata tersebut masih terekam jelas hingaa sekarang. Setiap membaca atau mendengat kedua kata tersebut, saya langsung teringat dengan lelaki yang menjelaskan makna kata tadi, puluhan tahun lalu.

&&&&

Akhir February 2000, Bed Kuning!

Saya dan beberapa kawan sedang duduk di “kantin” sekolah, beberapa senior dan kawan seangkatan sedang menikmati bakso lelek yang rajin datang berjualan ke tempat kami, junior bed merah belum berani turun. Sambil melihat mereka menikmati bakso dari pojok kantin, sesekali saya menelan ludah, sebenarnya ingin juga makan bakso, tapi ini akhir bulan, keadaan dompet sudah sangat tidak memungkinkan. Duduk di pojok juga posisi yang paling strategis, untuk menghindari panggilan senior, karena jika sudah dipanggil, berbagai kesalahan muncul sendiri, begitu juga perintan yang tidak penting-penting, semuanya bisa muncul seketika, walau sudah punya junior, tetap saja ada rasa “malas” ketika harus berhadapan dengan bed ijo.

Ketika asyik bercanda, lelaki paruh baya tadi masuk kedalam kantin, mendekat, duduk di kursi kosong yang sebelumnya di duduki kawan, kami semuanya terdiam, maklum, ada guru diantara kami. “awak kah hana ka pajoh sapeu?”, tanya beliau ke kami, sempat sunyi, akhirnya saya angkat bicara, “hana pak, karap tamong”, jawab saya singkat. “pajoh lah bacut, bek hana gizi sagai, meu kulet prut hana”, jelasnya. “aci, aci deung keuno”, perintahnya, saya mengerti, dan mendekat, tetiba saja, beliau meraih kulit perut dibalik baju putih saya, “nyan nah, meu kulet pruet hana, ci mat atra lon”, perintahnya, kini giliran beliau yang berdiri, mengambil tangan saya dan mengarahkan ke perutnya, saya pegang, tebal, jauh lebih tebal daripada kulit saya yang beliau sebut “hansep gizi”.

&&&&

Pertengahan November 2000, Bed Hijau!

Beberapa kawan, khususnya yang laki, sudah duluan menghilang dari kelas, saya belum punya kesempatan untuk angkat jari dan permisi, masih harus mendengar cerita si guru tentang keluarganya, padahal ini pelajaran bahasa Inggris. Iya, setiap mata pelajaran ini, kelas hampir tidak pernah sepenuhnya berisi, ada saya yang absen, tapi lengkap dengan surat dalam map. Yang beruntung sudah duluan mengasingkan diri dalam kamar, ini khusus buat yang cewek, sedangkan yang cowok kadang harus lebih dulu setor muka, untuk absen, dan kemudian menghilang entah kemana. Hari itu kurang beruntung, karena kelas diabsen setelah mau selesai, tapi tetap saja ditengah pelajaran, kelas suka kosong.

Melihat jumlah perjakan yang makin berkurang, saya juga angkat jari dan kemudian lari, bergabung dengan kawan kawan lain di kantin bang moel di belakang sekolah. Tapi, baru saja turun dari tangga, si bapak tiba-tiba muncul. “hai hai, ho kajak nyan?” saya tidak bisa mengelak, dari gelagat tidak bisa disembunyikan, ingin bilang ke WC, tetapi saya sudah terlanjur berbelok ke kanan, sedangkan WC adanya disebelah kiri tangga. “hana pak, ka hana meuphom lee peu geupeugah, lon teubit siat” saya coba merangkai alasan, tetapi itu bukan keahlian saya, dan beliau tahu. “meunyo hana meuphom ka tanyeng, bek kacabot sikula, meunyo sabee ka cabot, pajan meuphom?”, begitu jelasnya. Awalnya saya sangat takut akan dimarahi, tetapi beliau justru menasehati, tidak marah sama sekali. Saya minta maaf, masuk ke WC hanya untuk pegang pegang air sambil membasuh muka, kemudian kembali naik ke atas, masuk kekelas. Dari jauh saya tahu beliau terus memperhatikan saya!

&&&&

Pertengahan 2001, tidak ada bed!

Kami kembali ke kampus tanpa memakai baju seragam, kami semua kembali dengan rasa senang, semacam perpisahan setelah 3 tahun belajar disana, kami kembali untuk legalisir ijazah, setelah beberapa waktu lalu kami dinyatakan lulus semua, hebatnya lagi, SPK TND tahun ini kembali bikin rekor, ada siswa yang nilainya tertinggi se Aceh. Biasanya selalu saingan dengan SPK depkes.

Hari itu, ketika masuk kantor semuanya mengucapkan selamat kesaya, karena kawan sudah pada tahu kalau saya lulus di IAIN, mereka masih menunggu pengumuman UMPTN di Unsyiah, umumnya memilih kedokteran, keperawatan, ada juga yang di FKIP, MIPA, dan FKH, saya sudah mentasbihkan diri sebagai calon mahasiswa IAIN Ar raniry.

Masuk ke ruang guru, saya mohon maaf satu per satu, ada yang langsung tersenyum, ada juga yang acuh tak acuh, maklum, beberapa bulan lalu kami sempat mendemo sang guru tersebut, dan saya termasuk kompor yang memanas manasi kawan lain untuk tidak masuk kelas, hingga setelah mediasi dengan kepala sekolah, urusan yang kami demo-pun selesai. Hari itu, tetap saja saya meminta maaf sebagai murid, walau sebagian masih ada yang marah, kewajiban saya meminta maaf sudah saya lakukan.

Masuk keruang bapak rambut belah tengah tadi, saya disambut luar biasa, kabar kalau saya ,lulus di IAIN juga telah di dengan beliau dari kawan yang sudah berjumpa dengan beliau sebelumnya. “kiban cara ek rheut keunan sidroe? Ek kajak kuliah sinan?” tanya beliau sambil terus memegang tangan saya, bersalaman. Saya hanya menjawab basa basi, karena memang tidak tahu menahu dengan dunia kuliah. Yang penting bagi saya, lulus di IAIN ini punya kebanggan sendiri, karena nama saya diumumkan diserambi, dan semua orang kampung bisa membacanya, saya masuk koran.

“hana peu peu, deumpat jeut kuliah, yang penteng beu serius,…. kajak laju, adak perurawat kan perle sit bahasa enggres, kiban cara ta kerja di lua meunye hanjuet bahasa gop”, begitu sebagian nasehat yang sempat saya ingat. Saya mengucapkan terima kasih. Setelah urusan legalisir berkahir, sayapun pamit dari sekolah yang telah mendidik saya menjadi perawat.

&&&&

Pagi menjelang siang, Akhir 2013

Saya baru saja mau pulang dari rumah kawan di blang krueng-Darussalam, ketika akan menghidupkan sepeda motor, saya ingat seorang senior yang kini mengabdi di Almamater, bukan SPK, tapi kini sudah berubah menjadi AKPER. Karena dijalan pulang nanti saya akan melewati akademi ini, saya putuskan untuk menelpon sang senior

“kak, di pat posisi?” Tanya saya segera setelah ketika telepon diangkat.

“na di kampus, adoe dipat?”, tanya nya kembali

“di blang krueng nyoe, keneu lon woe, jeut ta murumpok? Lon piyus sinan?” Tanya saya yang langsung di setujui oleh senior tersebut.

Hari itu saya hanya bersandal jepit, celana jeans dan baju kaos, maklum, itu bukan hari kerja saya. Awalnya juga sempat saya tanya ke si kakak, apa sopan pakaian begitu, beliau bilang biasa saja, ntar kalo tidak mau masuk, bisa juga jumpa di warung kopi.

Tiba disana, yang saya tanyakan tentu masalah demonstrasi yang beberapa waktu sempat masuk koran, mendengar jawaban beliau, saya hanya bisa manggut manggut. Setelah itu langsung saja saya diajak masuk ke dalam, jumpa dengan beberapa dosen yang umumnya tidak saya kenal. Setelah diperkenalkan, saya kembali diajak ke ruang dosen yang lain “jumpa pak Bahar” kata beliau. Saya ikut saja, secara saya tamu disitu.

Masuk ke ruang ini, saya menemukan 4 lelaki tua yang sedang terduduk di meja masing masing, ada yang sedang memeriksa, soal, ada yang sedang menulis, ada yang memabaca buku, tidak satupun yang punya laptop di mejanya. Saya langsung menyalami satu persatu, dimulai dengan pak Bahar tentunya. Sambil bersalaman, sang senior memperkenalkan saya kepada para dosen senior ini, mendengar saya sedang “kuliah” di luar negeri, bapak yang memperkanalkan kata “combustio” kepada saya langsung semangat, menarik saya mendekat ke mejanya.

“kiban cara kuliah sideh? Kuliah atau kerja, peu jurusan, kota peu?” rentetan pertanyaan yang harus saya jawab satu persatu, awalnya membingungkan untuk mereka karena sistem di negara Angela Merkel ini berbeda dengan sistem yang mereka kenal di Indonesia. Tapi setelah saya jelaskan lebih detil, mereka mengangguk, mengerti?

“ka jak saweu lah kamoe sinoe, ka bri motivasi keu adek adek nyan, bah diteupeu kiban perawat nyan, peu jeut lheuh kuliah, peu cuma kerja atau jeut keu peu laen” sebagian permintaan beliau yang saya iya kan “Insya Allah pak”, namun sayang, hingga hari ini saya belum sempat untuk menuntaskan “janji” tersebut, bahkan ketika beliau sudah meninggalkan kita semua.

&&&&

Kaget, sedih, bingung, begitu perasaan saya ketika membaca pesan di FB bahwa sang bapak telah pergi menghadap sang Khalik. Padahal saat jumpa terakhir, beliau masih tampak sangat sehat, masih bersemangat seperti saat saya jumpa pertama kali dengan beliau 16 tahun yang lalu. Tapi memang langkah, rezeki, jodoh dan maut tak pernah ada yang tahu, tidak terjadi secara berurutan, semua sudah ditentukan-Nya, kita hanya tinggal menunggu giliran.

Dari sekian lama kenal dengan beliau, banyak sekali pelajaran yang saya ambil; sedikit didalam kelas, lebih banyak dari cara beliau menghadapi kenakalan kami. Ketika beliau mengajar sambil memegang mulut, itu hanya perilaku beliau menghapus busa putih di pinggir mulutnya. Tapi dari itu saya bisa mengingat beda combustio dan commotio cerebri. Intinya, dalam mengajar, berikan contoh yang membuat siswa bisa memahami lebih baik, beri rasa nyaman saat mengajar, bukan dengan marah marah di depan kelas.

Ketika beliau mendekat dan duduk diantara muridnya di kantin, pelajaran yang hendak beliau sampaikan adalah; jangan buat jarak dengan murid, jadikan mereka sebagai kawan. Jarak antara murid dengan guru yang terlalu jauh justru membuat si murid jenuh, takut, sehingga setiap si guru mengajar, murid lebih sering mengalami cemas dibandingkan menangkap pelajaran.

Ketikan beliau menangkap saya ketika hendak cabut dari kelas, beliau mengajarkan saya bahwa mendidik itu bukan dengan menghukum, tapi memberi pengertian. Meski beliau tahu saya akan cabut, beliau tidak langsung marah, tapi membuat pertanyaan yang tidak sempat saya pikir ketika saya mau cabut, ada untung tidak kalau cabut? Apa itu nampak hebat?

Ketika saya pamitan karena telah dididik menjadi perawat, dan telah lulus dengan nilai yang baik, beliau kembali mengingatkan untuk tidak berhenti belajar, semua ilmu itu ada manfaatnya, ada gunanya untuk masa depan, untuk masa yang kita tak pernah tahu kapan kita butuh ilmu tersebut. Jangan pernah merasa cukup untuk belajar, karena ketika kita merasa sudah pintar, justru itulah saat kita dimana berada di titik paling bodoh.

Jumpa terakhir adalah permintaan beliau, yang entah kapan dan bagaimana saya bisa memenuhinya, semoga beliau memaafkan karena hingga sekarang belum sempat saya penuhi, sedangkan jika beliau pernah bersalah pada kami, maka kami telah memaafkan sebelum beliau memintanya

Selamat jalan guru kami, ilmumu kini mengalir dalam darah kami,

Engkau tidak hanya mendidik, tetapi mengajari tentang hidup untuk kami,

Engkau tidak hanya mengajar, tapi mendidik kami cara untuk hidup

Pelajaranmu bukan berakhir di papan tulis, tapi di hati kami

Didikanmu tidak akan berakhir di Ijazah, tapi dalam perbuatan kami

Selamat jalah guru kami, waktu 3 tahun bersamamu adalah bagian paling berarti bagi hidup kami.

 

Berlin – Jerman, 20 Agustus 2014

Seseorang yang menyebut dirinya sebagai muridmu!

*Sebuah catatan untuk Alm Bapak Adnan Abdullah, Guru SPK Tjoet Nja Dhien Banda Aceh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s