Apakah Marshanda Mengalami Gangguan Jiwa?

Pertanyaan tersebut semakin banyak ditanyakan setelah pengacara artis yang biasa panggil chaca ini angkat bicara kalau kliennya tidak mengalami gangguan jiwa.

“Dia mandiri dan dia tidak mengalami gangguan jiwa. Dia masih bisa berkarya. Jangan ada yang ganggu dia. Dia tidak melakukan pelanggaran hukum,” ujar OC Kaligis, yang mendampingi Chaca, dalam wawancara eksklusif yang dilakukan dan ditayangkan langsung oleh Metro TV, Selasa (5/8/2014).

Pernyataan ini justru menimbulkan tanda tanya baru, jika memang chaca tidak punya masalah kejiwaan, kenapa kemudian harus disampaikan ke publik? siapa yang menuduh chaca gangguan jiwa? dan yang paling penting, bagaimana OC kaligis yang seorang ahli hukum bisa membuat diagnosa apakah seseorang mengalami gangguan jiwa atau tidak? Apakah beliau pernah kuliah kedokteran atau sebelumnya sudah pernah di konsultasikan ke ahli jiwa sehingga ia bisa menyampaikan hasil diagnosa tersebut?

Jika pernyataan tersebut berasal dari seorang OC kaligis pribadi, maka hal itu sangat disayangkan karena untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan jiwa atau tidak, itu seharusnya dilakukan oleh ahli jiwa atau psikiater, bukan oleh ahli hukum. Kecuali si ahli hukum ini sudah sebelumnya berkonsultasi dengan ahli jiwa, makan hal ini bisa diterima.

Selanjutnya, jika alasan OC kaligis menyatakan chaca tidak mengalami gangguan jiwa karena dia masih mandiri dan bisa berkarya; banyak sekali orang yang jauh lebih mandiri, bisa berkarya, membina rumah tangga tetapi ia mengalami gangguan jiwa. David Becham contohnya, tetap bisa bermain bola walau sudah punya OCD sejak remaja, begitu juga dengan Alanis Morissette yang masih tetap bisa bernyanyi walau mengalami depresi. Belum lagi banyak CEO sukses dan bahkan pemimpin negara yang mengalami gangguan jiwa, tapi tetap bisa berkarya dan berkarya.

Untuk diketahui, gangguan jiwa itu sangat banyak jenisnya, mulai dari yang ringan seperti phobia, takut dengan darah, suka cemas tanpa sebab, takut ketingggian, hingga yang berat seperti depresi dan skizophrenia. Untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan jiwa juga tidak segampang mengatakan “ini panuan” atau “ini bisulan”, orang tersebut harus diperiksa, diwawancara, dan diambil darahnya untuk diperiksa di laboratorium. Di negara maju malah sudah harus dilakukan scan otak sehingga bisa ditentukan seseorang punya gangguan jiwa atau tidak. Selaian si pasien, orang terdekat dengannya seperti keluarga, teman dekat atau malah tetangga juga diwawancara mengenai perilaku pasien sehari hari, sehinggan diagnosanya lebih tepat dan pengobatannya juga lebih cepat.

Gangguan jiwa berat yang umum terjadi tapi sering tidak disadari orang salah satunya termasuk gangguan bipolar. Dikatakan gangguan jiwa bipolar saat seseorang punya mood yang berubah ubah, kadang sangat semangat atau manik, kadang juga depresif. Saat dalam fase manik, orang tersebut biasanya sangat baik, penuh motivasi, rajin belajar, atau segalanya serba indah. Sebaliknya saat mengalami fase depresif, ia bisa menarik diri, tidak bisa bergaul, marah-marah tanpa sebab dan sebagainya. Jika orang tersebut punya depresi yang dominan atau lebih sering, maka akan sedikit lebih mudah di kenali, sebalaiknya mereka yang punya fase manik lebih banyak, maka orang awam akan menganggap orang ini sangat kreative, sangat rajin, penuh ide, dan sebagainya, karena memang pada fase ini, orang ini bisa tidak tidur berhari-hari, selelau belajar atau bekerja, melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan orang lain, dan sebagainya. Keaadaan ini biasanya baru bisa diketahui setelah di konsultasikan dengan ahli jiwa.

Terakhir, gangguan jiwa itu bukan akhir dari segalanya, bukan aib yang harus ditutupi. Tidak ada masalah jika seseorang mengalami gangguan jiwa, yang salah adalah ketika kita tidak mau menerima bahwa kita punya masalah tersebut, apalagi sampai ditutup tutupi sehingga tidak pernah berobat. Tidak ada orang yang bebas dari masalah kejiwaan sepanjan hidupnya, yang ada adalah berapa besar masalah jiwanya dan seberapa mampu ia menghadapi atau bisa “hidup” dengan masalah kejiwaan tersebut.

Sebagai mantan penggemara chaca di waktu kecil, saya ikut prihatin dengan berbagai masalah yang dihadapi. Semoga ia kuat dan bisa segera keluar dari masalah tersebut, jika memang ia punya masalah.

Berlin 050814.

Advertisements

8 thoughts on “Apakah Marshanda Mengalami Gangguan Jiwa?

    • ini bukan OCD nya dedi kobuset ya, tapi obsessive compulsive disorder :), David Becham ngaku sendiri kalau dia punya gangguan ini di sebuah wawancara.

  1. Jadi orang-orang seperti Chaca itu ga boleh dijauhi ya kan, bang? Harus disemangati untuk berobat. Tapi dianya marah-marah gitu waktu dibawa ke rumah sakit sama mamaknya, kekmana tu, bang?

    • ya gk boleh lah, apalagi sampai di marah-marahin. seharusnya orang tua lebih mengerti tentang keadaan anaknya, beri penjelasan dsb. org gangguan jiwa tidak bodoh spt yang kebanyakan orang pikir, mereka bisa di beri pengertian, dan mengambil keputusan, dsb, jadi seharusnya kalau si caca merasa punya masalah, dia sendiri yang seharusnya datang ke rumah sakit.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s