Alhamdulillah, Kawan Saya Jadi Muallaf

Hey Tunis, how are you? Are you still in Berlin? I’m also here right now! We could meet for dinner today or meet tomorrow sometimes for coffee? We’ll leave on Monday morning, see you soon? Andy!

Andy sedang melihat rute yang baru saja kami jalani di Ulriken

Andy sedang melihat rute yang baru saja kami jalani di Ulriken

Begitu pesan panjang masuk ke Line beberapa hari lalu, melihat nama yang tertera, tidak susah bagi saya untuk menebaknya walau sudah beberapa bulan kami tidak bertegur sapa.

Hi Andy, sorry but I am not in Berlin, begitu jawab saya singkat dan langung dibalasnya “oh.. that is so bad”. Saya kemudian menjelaskan dimana posisi saya dan percakapan berlanjut mengenai masalah kuliah, kerja dan penelitian yang kami lakukan. Dari percakapan, dia mengaku hanya liburan singkat Berlin, dan akan kembali ke kampungnya di swiss dua hari kemudian.

Ketika chatting kami akan berakhir, saya menitip salam buat calon suaminya yang sebelumnya sudah saya tahu berasal dari sudan dan seorang muslim. “please say my salam to your husband”.

Mendapat pesan seperti ini, buru buru dia balas “future husband ;)” dan lagi lagi saya balas dengan canda “whatever :)”.

“important difference 🙂 , balasnya, saya hanya menjawab dengan tawa. Kemudian dia menambahkan “I am now somehow your sister ;), I converted :))

Mendapatkan informasi seperti itu langsung saja kata ALHAMDULILLAH besar besar saya tulis, sangat senang bahkan hampir tak percaya,

“Even did my shahada last week to have a paper to visit saudi arabia, his brother lives there, but converted sometimes ago”, kembali dia menjelaskan. Kini jelas bahwa dia tidak sedang bercanda, karena Andy yang saya kenal biasanya sangat periang dan kadang kelewat ngelawaknya.

Andy pakai Jaket biru, kali ini saya yang ambil fotonya

Andy pakai Jaket biru, kali ini saya yang ambil fotonya

Namanya Andrea, lengkapnya Andrea Bärloc…. (edited), saya mengenalnya beberapa tahun lalu di Bergen, Norwegia, saat itu dia mewakili kampusnya di Swiss, sedangkan saya tentu mewakili tempat belajar saya di Berlin. Walau perkenalan saya dengannya singkat, banyak sekali pelajaran yang saya ambil dari dia. Ketika kami jalan naik ke gunung Ulriken untuk menikmati pemandangan salju dari atas, berbagai cerita mengenai sistem kesehatan di negaranya diceritakan, misalnya seorang kehilangan pekerjaan atau punya masalah fisik (atau mental), maka apa saja yang dilakukan pemerintah. Begitu juga dengan sistem pendidikan dan pembiayaan kesehatan. Tersadar bahwa negara sangat baik melayani rakyatnya.

Pada kesempatan lain, kami juga sempat berdiskusi tentang agama, dan dari dialah pertama kali saya mendengar istilah “rabbatul bait” atau ratu nya rumah, istilah dalam bahasaya yang berarti ibu rumah tangga. Kisah ini sudah saya tuliskah di blog ini.

Sungguh islamnya Andy bukan hal yang mengejutkan, bukan juga karena ia ingin menikah dengan orang islam, tapi memang dari lama dia telah mempelajari islam itu sendiri, hanya saja hatinya baru benar-benar terbuka sekarang. Alhmdulillah,

Setelah diskusi kami sudahi, sempat terlintas dalam benak saya, kenapa bukan saya saja yang mensyahdat kan si Andy? Kenapa harus orang lain? Tapi kemudian jawaban langsung muncul didepan saya, dengan sebuah pertanyaan juga, “saya sendiri, se-islam apakah saya sekarang ini? Apakah saya sudah layak mensyahdatkan orang lain? atau harus melakukannya untuk diri saya sendiri dulu?”

Semoga kita bisa benar benar memahami islam, setidaknya seperti yang dilakukan andy, Meine schwester aus Schweiz!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s