Pamanku Terjangkit TB dan Bisa Berobat Dengan Gratis

Tahun 2013 yang lalu, saya menemani paman  ke Puskesmas Kecamatan yang terletak di kampung kami. Paman mengalami batuk lebih dari satu bulan dan berdahak. Dahaknya berwarna kuning kehijauan. Selain itu, badannya juga bertambah kurus. Paman saya adalah perokok aktif. Sehari ia bisa menghabiskan satu sampai dua bungkus rokok. Awalnya ia enggan untuk ke Puskesmas. Selama ini ia lebih memilih berobat ke dukun. Ya, orang kampung saya masih percaya bahwa penyakit yang sampai membuat tubuh kurus itu karena diguna-guna. Penyakit guna-guna ke dukunlah berobatnya.

Setelah lama berobat pada dukun, paman tak kunjung sembuh. Saya pun memaksa dia untuk pergi ke Puskesmas. Karena tidak tahan dengan batuk yang ia alami dan terkadang juga disertai dengan sesak nafas, pamanpun nurut. Karena paman hidup sebatang kara, orang tua sayalah yang menanggung segala kebutuhannya termasuk sejumlah biaya untuk pengobatan.

Akhirnya, kamipun pergi ke Puskesmas. Setelah mendaftar, petugas kartu mengatakan bahwa berobat di Puskesmas itu gratis karena telah ditanggung oleh Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Saya hanya perlu menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga (KK) dan KTP. Tak lama kemudian, paman diperiksa oleh dokter.

Sejak dari rumah, saya sudah mewanti-wanti agar paman menceritakan semua keluhan yang ia rasakan pada dokter. Dari pintu ruangan dokter saya mendengar kalau paman menceritakan kalau ia mengalami batuk berdahak yang tidak disertai darah, penurunan berat badan, cepat lelah, demam tinggi, dan berkeringat malam yang dirasakan sebulan belakangan.

Setelah wawancara dan melakukan pemeriksaan fisik, dokter mengatakan kalau paman saya kemungkinan besar menderita tuberkulosis atau TB. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri mikrobakterium tuberculosis lewat udara melalui percikan ludah. Riwayat merokok menjadi faktor resiko mudahnya peneluran penyakit ini. Kekebalan tubuh perokok lebih lemah dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Saya yang sehat pun tidak tertutup kemungkinan untuk tertular TB jika tidak menjaga imunitas tubuh.  Untuk menunjang diagnosis, dokter menyuruh paman untuk melakukan pemeriksaan dahak di laboratorium yang juga terdapat di Puskesmas.

“Periksanya tiga kali ya, Pak. Hari ini sekali, besok pagi sekali, dan lusa sekali.” jelas dokter.

Periksa Dahak S-P-S (sewaktu-pagi-sewaktu)

Lalu saya pun membawa paman ke Laboratorium yang letaknya di sebelah ruang dokter. Petugas lab meminta paman untuk meludahkan dahaknya ke dalam pot kecil yang ia berikan. Lalu loboran itu melakukan pemeriksaan dahak paman di bawah mikroskop setelah mencampurkannya dengan larutan Zhiel Nielsen.

Keesokan paginya, saya kembali membawa paman untuk memeriksa dahak pagi sesuai dengan anjuran dokter. Begitupun dengan hari berikutnya, kami datang lagi ke Puskesmas untuk memeriksa dahak yang ketiga. Pada hari ke tiga, saya dan paman datangnya agak siang karena memang pemeriksaan dahak hari ketiga waktunya tidak ditentukan.

Penasaran dengan penentuan waktu untuk pemeriksaan dahak, saya pun bertanya pada petugas lab tersebut.

“Ini namanya pemeriksaan dahak SPS, Dek. Singkatan dari sewaktu, pagi, sewaktu. Ini sesuai dengan metode WHO. Dari tiga kali pemeriksaan ini, minimal harus 2x positif untuk menegakkan TB. Atau kalau satu kali positif, nanti akan dilakukan pemeriksaan ulang.”

Setelah hasil pemeriksaan dahak keluar, saya dan paman lalu kembali ke ruangan dokter. Dan benar saja, dokter menyimpulkan bahwa paman saya menderita TB.

Minum Obat Selama 6 Bulan

“Bapak positif menderita TB, jadi sekarang bapak harus berobat selama 6 bulan. Tidak boleh putus. Kalau minum obatnya tidak teratur, kumannya akan bangkit lagi dan bisa lebih parah,” jelas sang dokter.

Mendengar harus berobat 6 bulan, paman saya langsung menolak. Ia ingin berobat ke dukun saja. Berobat 6 bulan sungguh sangat lama dan membosankan. Kalau ke dukun, ia bisa datang sesuka hati.

“Memangnya tidak ada pengobatan yang lebih cepat ya, Dokter?” tanyaku kemudian.

“Saat ini belum ada. Pengobatannya TB lama karena kuman TB itu sangat kuat. Jadi butuh waktu selama enam bulan untuk melemahkannya. Mudah-mudahan ke depannya akan ada inovasi terbaru sehingga pengobatan TB menjadi lebih cepat.”

Lagi-lagi aku harus membujuk pamanku untuk mematuhi nasihat dokter.

“Kalau paman tidak mau berobat, itu sama saja dengan paman egois. Egois karena penyakit paman itu sangat menular. Saya bisa tertular, semua orang di rumah bisa tertular. Orang yang ngobrol dengan paman juga tertular. Paman ngga boleh begitu. Penyakit paman bisa diobati. Cuma enam bulan kok. Bayangkan, berapa bulan udah paman ke dukun? Tapi nggak sembuh-sembuh kan?”

Mendengar ucapanku, paman pun menurut.

Dokter lalu memanggil seorang perawat yang untuk mencatat nama paman di bukunya. Ternyata perawat itu adalah pemegang program pemberantasan penyakit menular khususnya TB di Puskesmas. Menurut penjelasan dokter, nanti paman akan lebih banyak berhubungan dengan perawat tersebut kecuali jika ada keluhan lain baru kembali lagi ke dokter.

Dokter juga menjelaskan obat-obatan yang harus diminum oleh paman. Obat-obatan tersebut terdiri dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan ethambutol atau yang disingkan dengan RHZE. Untuk memudahkan pasien minum obat, pemerintah telah menyediakan kemasan dalam bentuk tablet kombinasi atau fix dose combination (FDC). Semua obat tersebut telah disatukan dalam satu tablet. Hal ini memudahkan pasien TB untuk minum obat dan tidak membosankan cukup menelan satu tablet saja setiap harinya.

Obat TB Gratis

Fix dose combination dari rifampisin, isoniazid, pirazinamid, dan ethambutol. Sumber foto : diniadistini

Dokter juga menegaskan bahwa pengobatan TB terhadap paman adalah GRATIS. Saya dan keluarga tidak perlu memikirkan biaya karena semuanya telah ditanggung oleh pemerintah yang bekerja sama dengan Global Fund. Tidak ada istilah orang miskin dilarang berobat. Apalagi sekarang telah berlaku JKN, sehingga semua orang bisa berobat dengan gratis ke Puskesmas atau Rumah Sakit Pemerintah.  Namun, dokter meminta saya dan keluarga untuk menjadi pengawas menelan obat (PMO) bagi sang paman. Tugas kami adalah memastikan paman minum obat setiap harinya.

“Obat TB ini harus diminum setiap hari. Kalau sampai bolong-bolong, pengobatan TB bisa gagal dan harus diulang kembali. Tak jarang, karena tidak disiplin minum obat, kuman TB itu ngga mempan lagi dengan obat sekarang. Jadi agar mudah mengingat, minum obat pada waktu yang sama setiap harinya. Misalnya setelah makan pagi.  Setiap hari seperti itu,” anjur sang dokter.

Selain itu, paman juga diminta untuk menutup mulut setiap kali batuk dan tidak membuang dahak sembarangan. Dokter juga memberikan beberapa masker pada paman untuk dikenakan.

Berdasarkan penjelasan dokter, pengobatan penyakit TB paman dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap intensif dan tahap lanjutan.

Tahap awal (intensif)

  1. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat RHZE setiap hari dan perlu diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat selama dua bulan.

  2. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

  3. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.

Tahap Lanjutan

  1. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit yaitu rifampisin dan isoniazid, namun dalam jangka waktu 4 bulan

  2. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah terjadinya kekambuhan

Alhamdulillah setelah menjalani pengobatan selama 6 bulan, paman saya dinyatak sembuh dari TB. Berkat pengobatan yang kontinyu, kedisiplinan untuk minum obat, serta meninggalkan rokok, paman bisa terbebas dari TB.

Advertisements

One thought on “Pamanku Terjangkit TB dan Bisa Berobat Dengan Gratis

  1. TB ini mesti dapat penanganan yg intensif yaaa kalo kagak pasti kambuh lagi. Temen gw di kantor ada yg kena karena polusi udara kata nya, sampai sekarang masih perawatan sudah hampir 6 bulanan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s