Singa yang Pemarah, Elang yang Rakus dan Merpati yang Baik Hati

Di sebuah hutang yang lebat, tiga anak singa saling bercengkarama, saling berkejaran, katanya ini adalah proses belajar mereka. Sementara sang induk sedang pergi mencari mangsa, mereka sudah lama lapar, tidak makan daging. Walau mereka kadang bergelut, tak ada cakar yang keluar dari kaki, tak ada taring yang dipakai untuk melukai saudaranya. Mereka benar benar senasib, lahir dari induk yang sama, berusia sama, dan sedang mengalami perasaan yang sama, lapar.

Beberapa saat kemudian, sang induk pun pulang dengan seekor bangkai ayam dimulutnya? Ketiga anaknya mendekat, melompat dan melahap makanan yang ada di depan mereka. Saat makanan tiba, sifat mereka berubah total, dari sebelumnya yang tampak lucu dan bersahabat, kini menjadi buas dan rakus. Tidak hanya terhadap lingkungan mereka, terhadap sesama saudara sendiri mereka sudah mulai cakar cakaran, mulai bermusuhan. Makanan rupanya mengubah sifat dan perilaku anak anak singa ini.

Melihat keganasan anak anak singa ini, binatang yang tinggal di hutan mulai khawatir, lari menjauh, takut menjadi korban. Bahkan burung burung yang sedang hinggap diatas pohon juga harus mengambil sayap seribu, terbang secara bersamaa saat auman singa memecah kesunyian hutan.

Diatas pohon tak jauh dari tempat ketiga anak singa yang sedang berjuang untuk mengisi perut, seeokor induk elang sedang menasehati anak daranya. “nak, jangan sekali kali kamu rakus seperti ketiga anak singa dibawah, kamu tidak boleh hanya mementingkan diri sendiri, kalau kamu mencari makan, maka perhatikan sekeliling, jangan hanya makanan, jangan ambil sesuatu yang tidak mungkin atau yang bukan milik kamu, karena kalau kamu rakus dan mecari makan tanpa menghiraukan lingkungan, kamu akan kualat dan hanya manjadi tatapan serta ketawaan anak kecil”, nasehat sang ibu elang yang hanya dijawab dengan diam oleh sang anak.

Waktupun berlalu, anak anak singa mulai besar, mereka mulai hidup berpencar, memilih untuk hidup sendiri, demi memperoleh porsi makanan yang lebih besar. Begitu juga dengan anak elang, kini ia sudah merantau ke negeri lain, jauh dari sang induk, untuk mencari hidup yang lebih layak.

Suatu hari, elang sedang melintas diatas hutan lebat, dengan kelebihan penglihatan yang ia miliki, ia dapat melihat anak-anak burung pipit ditinggal bertiga, induk pipit sedang mencari makan. Karena memang kebiasaan burung pipit suka membuat membuat sarang lebih dekat dengan tanah, hanya burung elang yang bisa melihat dari atas, melewati rimbunan daun pohon pohon yang tinggi. Merasa ini adalah santapan yang paling pas, dia hanya butuh dua kali berkeliling, dan langsung menarik sayap untuk menungkik tajam ke arah sarang burung pipit, tanpa menghiraukan lebatnya daun dan ranting pohon yang harus dilewati untuk menuju ke sarang burung pipit, nasehat ibunya ia lupakan, dan ia kena getahnya. Beberapa meter sebelum mencapai sarang burung pipit, sayap burung elang ini tersangkut di ranting pohon, ia terkunci, tak bisa bergerak sama sekali.

Beberapa saat kemudian, anak anak manusia yang tinggal dekat hutan sedang mencari buah buahan, dan menemukan elang yang tersangkut ini, mereka membawa pulang si elang dan memasukkannya ke dalam sangkar, menjadi tontonan.

Jauh dari kehidupan si singa dan si elang, keluarga besar merpati tinggal di belakang rumah manusia, dalam sebuah kandang besar yang terpaku pada batang pohon. Disana mereka hidup bersama, mulai dari nenek hingga cucu, tak ada pertengkaran. Saat sang induk membawa pulang makan, sang anak hanya membukan mulut agar makanan itu mudah dimasukkan kedalam mulut oleh induknya, kemudian mereka kembali berkicau, apa itu dalam keadaan kenyang atau lapar, mereka tahu bahwa dengan berkicau, mereka sedang menghibur manusia yang tinggal diseberang. Sang ibu merpati hampir tak pernah menasehati anaknya, tapi dia memberikan contoh kepada generasinya. Ia tahu, anak kecil bukan hanya untuk dinasehati, tapi  yang paling penting adalah untuk diberikan contoh.

Singa singa yang  merasa merekalah yang paling kuat, sehingga berani hidup sendiri kini mulai harus menghadapi predator yang lebih rakus dibandingkan mereka yaitu manusia, begitu juga dengan sang elang yang harus menjadi tontonan dan tinggal dalam sangkar sepanjang hidupnya. Gelar penguasa udara juga harus dicabut karena dalam sangkar, jangankan untuk terbang, untuk merentangkan sayapnya ia tak bisa. Sedangkan merpati dapat terus hidup tentram, berkicau dan terbang bebas hingga akhir hayatnya.

 *) Cerita ini di tulis ulang berdasarkan ceramah jumat di mesjid lambhuk kemarin, dengan beberapa tambahan bumbu tentunya.

Advertisements

One thought on “Singa yang Pemarah, Elang yang Rakus dan Merpati yang Baik Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s