JKN: asuransi akal akalan pemerintah?

Tiba-tiba tadi saya membaca sebuah posting di dinding FB sebuah forum, begini bunyinya!

JKN
– Fasilitas kelas I dikenai iuran Rp 59.500 per orang per bulan
– Fasilitas kelas II dikenai iuran Rp 42.500 per orang per bulan
– Fasilitas kelas III dikenai iuran Rp 25.500 per orang per bulan

jika satu keluarga dengan 2 anak berarti 4 orang untuk fasilitas tk III 25.500×4=102000

Apa masyarakat indonesia mampu membayar  iuran sebanyak 102 000 perbulan?

Pertanyaan selanjutnya muncul di kepala saya,  apakah benar JKN itu akal akalan pemerintah? Hanya untuk pencitraan mengingat tahun 2014 juga akan dilaksanakan pemilu?

Kalau dilihat sekilas, bisa saja itu akal akalan. Tapi, pernah tidak kita berpikir lebih jauh, kenapa JKN ini dibuat? Kenapa JKN harus ada?

Jawaban dari saya adalah: karena negara memang harus menjamin kesehatan seluruh warganya. Dan kerena memang kesehatan itu adalah hak asasi manusia.

Nah, kenapa harus WAJIB hukumnya? Kenapa tidak sunat muaakad saja misalnya?

Sebelum menjawab itu, mari kita pahami suatu konsep dalam ekonomi kesehatan yang disebut: universal health coverage (UHC). Nah, apa pula itu? Secara singkat, UHC adala sistem yang menjamin seluruh rakyat suatu negara untuk memperoleh akses kesehatan.

Nah, bukankah kita sekarang sudah punya akses yang bagus? Kalau sakit tinggal ke puskesmas?, iya, kalau hanya datang ke puskuesmas, kita sanggup. Tapi bagaimana jika anda sakit kronis, harus cuci darah setiap minggu misalnya? Apakah anda sanggup membayar jutaan setiap minggu? Nah inilah tujuan dari UHC ini. Untuk mencapai UHC ini, ada beberapa cara yang bisa dilakukan, bisa seperti yang di buat kartu sehat ala jokowi, atau kartu JKA ala pemda Aceh, sayangnya yang di aceh kurang terkenal, padahal dari segi sistemnya jauh lebih bagus dari pada punya jokowi.

Cara lain tentu dengan sistem asuransi, baik sosial, mapupun kapitalis. Asuransi sosial kesehatan merupakan hal yang wajib di hampir semua negara eropa barat. Sedang Amerika lebih ke kapitalis. Bedanya apa? Pada sistem sosial, orang membayar berdasarkan kemampuan atau gajinya. Sedangkan untuk akses atau pelayanan tetap sama, tidak dibedakan si kaya atau si miskin. Tidak pula berdasarkan berapa banyak dia membayar premi tiap bulannya. Sebaliknya pada system kapiltal, pelayanan ditentukan berdasarkan kontrak dan preminya.

Bedanya lagi, sistem sosial diatur dan bahkan dijalankan oleh negara, sedang sistem kapital yang berkuasa adalah swasta.

Sistem asuransi di jerman misalnya, usianya sudah ratusan tahun, sudah dimulai sejak otto von Bismark menjabat sebagai kanselir. Sedangkan system NHS Inggris dimulai sejak pasca perang dunia kedua.

Di jerman, setiap orang wajib menjadi anggota asuransi, baik negeri maupun swasta. Setiap bulan bayarnya  50-100 euro, tergantung income atau dengan asuransi yang mana. 100 euro sekarang sekitar 1.6 juta. Jadi jumlah itulah yang dibayar mereka tiap bulan, walau dalam setahun belum tentu sakit sekalipun. Nah, jika tidak pernah sakit, apakah uang kita di kembalikan? Tentu tidak, uang tersebut diberikan kepada mereka yang tidak sagggup bayar asuransi, istilah kita subsidi silang. Kalau mau cerita system jerman, bakalan panjang lebar, cukup disini dulu.

Sebaliknya di inggris, kita tidak perlu membayar tiap bulan seperti di jerman, tapi pemerintah memberikan pelayanan yang gratis tis tis,. Jadi kalau sakit, tinggal telepon ambulance, dijemput, dibawa ke RS, tidur sampai sembuh, tidak ada satu rupiahpun , kecuali untuk tebus obat harus bayar sekitar 6 pound, sebanyak apapun obat, atau jenis apapun, Cuma bayar 6 pound. Tujuannya untuk mencegah moral hazard.

Apa itu moral hazard? Itu istilah untuk tidak memakai berlebihan, jangan sampai mentang-mentang gratis jadinya selalu berobat. Jadi dibuatlah cara ini, sehingga orang akan bertanggung jawab secara moral, dan hanya berobat kalau memang perlu, kira2 gitu. Defenisi di buku sila di baca sendiri.

Nah, jika di jerman untuk biaya berobatnya dibayar asuransi, bagaimana dengan di inggris, dari mana uangnya sedang warganya tidak membayar satu sen pun? Jawabannya. DARI PAJAK. Jadi apapun usaha atau pekerjaan yang anda buat, anda harus bayar pajak, dan dari pajak itu termasuk untuk membiayai kesehatan warganya.

Kedua system ini ada kelebihan dan kekurangannya, tapi malas lah cerita tentang ini.

Bagaimana dengan system di amerika saat ini? hmmm, mending gak usah dicerita disini, secara tak ada yang special dengan system mereka, dan sayangnya sebagian di adopsi pemerintah kita (panasaran?)

Balik lagi ke JKN. Sebenarnya maksud dari JKN itu sangat baik, masalahnya belum semua warga kita sadar apa itu asuransi, dan bagaimana prinsip kerjanya. Secara pribadi saya sangat antusias dengan system ini, walau saya lebih prefer ke system JKA. Secara coverage nya juga lebih bagus (katanya)

Untuk anda tahu, lebih dari 70% warga Indonesia saat ini masih membayar sendiri kalau berobat (istilahnya out of the pocket), dan ini bukan system yang baik dan sudah sangat lama yang sudah ditinggalkan. Yang baik adalah ya dengan UHC pakai JKN atau JKA tadi.

Oh ya, cerita panjang lebar (dan lebih ilmiah) mengenai asuransi kesehatan bisa dibaca disini;sedang pengalaman saya berobat dengan system jerman bisa dibaca disini.

Satu hal yang saya tidak setuju dengan system JKN ini adalah system pembagian kelas, seharusnya semua orang mendapatkan pelayanan yang sama, tidak pakai kelas2, terserah dia bayar premi berapa, tergantung kemampuan dia, tapi untuk pelayanan harusnya sama. Itu saja.

Sekian dulu, maaf tulisannya lari2, maklum udah malam, en udah mau tidur.

Wassalam

Advertisements

2 thoughts on “JKN: asuransi akal akalan pemerintah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s