Kenapa bisa JetLag?

Walau sudah seminggu lebih aku berada di kampung halaman, pola tidurku belum juga teratur. Aku tidak tahu pasti apa aku masih menderita jetlag, atau memang pola tidurku yang sekarang sudah banyak berubah. Jika perkaranya adalah jetlag, biasanya aku hanya butuh waktu sehari untuk bisa beradaptasi dengan tempat yang baru. Cara melawan jetlag kulakukan seperti tips yang umum diberikan, saat tiba di negara tujuan, jika tibanya siang, jangan pernah tidur hingga waktu malam, sedang jika tibanya malam, maka segeralah tidur walau tidak mengantuk, dan mulailah aktivitas esok harinya, mengikuti irama atau pola hidup penduduk setempat.

Namun, kepulanganku seminggu lalu susah untuk di jelaskan, apakah aku tibanya siang atau malam. Aku mendarat di Bandara Kuala Leuhob (Lumpur-Pen) sekitar jam 3 siang, setelah menempuh perjalanan sekitar 13 jam dalam pesawat, plus transit 4 jam di sebuah negara arab. Nah, setelah sekitar 6 jam transit di negara siti nurhaliza ini, aku menyeberang ke tanah air pada pukul 9 malam waktu setempat dan juga tiba di bandara baru Kualan Namu di Medan (KNO) juga pukul 9 malam, setelah menempuh penerbangan kurang dari 1 jam. Dari bandara aku naim damri ke kota medan sekitar 1 jam, selanjutnya disambung dengan becak sekitar 30 menit menuju ke sebuah terminal bus yang akan membawaku ke Aceh. Bus berangkat sekitar jam 1 malam, sahur di daerah Langsa pukul 4 pagi dan perjalan di lanjutkan dan tiba di sigli sekitar pukul 10 siang. Dari kota kabupaten ini aku harus pindah ke L300, transportasi antar kabupaten dalam provisi yang hanya tersedia saat itu. Menjelang shalat jumat, aku tiba di Rumah kami di Ibukota provisi Aceh, destinasi akhir dari perjalanan 2 hari 2 malam ku dari Berlin, Jerman.

Dari semua transportasi yang kunaiki, mulai dari pesawat super besar Airbus A380-800 saat menempuh perjalanan dari Hamburg ke Dubai, hingga menumpang Becak dari sekitaran gajahmada ke Pangkal Pinang di Medan, hanya di dalam becak saja aku tidak tertidur, selebihnya aku selalu sempat memejamkan mata, walau kadang hanya untuk sementara saja seperti saat menyeberang dari KL ke Medan. Tiba di rumah aku merasa sangat lelah dan langsung tertidur. Baru di sore harinya aku sanggup membuka mata dan menemani sang istri untuk berjalan jalan.

Beberapa hari kemudian, aku menderita batuk yang mungkin terjadi karena perubahan cuaca, reaksi alergi atau ditularkan sang istri. Tidak jelas penyebabnya, yang pasti kami kompak untuk batuk bersama. Kasihan dengan keadaanku, sang istri menyarakanku untuk minum obat, sesuatu yang kubenci untuk kulakukan. Dia meyakinkan bahwa efek tidurnya hanya sedikit, ia juga memimumnya dan memang kulihat dia juga tidak begitu ngefek sama tidurnya. Awalnya tidak banyak perubahan yang kurasakan, tapi begitu waktu malam, aku langsung tertidur hingga esok pagi. Usai shalat subuh, mataku juga belum bisa diajak kompromi, efek obat masih sangat kuat menyerangku yang memang sangat jarang minum obat . Tidurpun kulanjutkan hingga waktu siang, dan baru setelah zuhur rasa kantuk itu menghilang. Sejak saat itu aku berjanji untuk tidak lagi minum obat yang itu (maaf namanya tidak layak kusebutkan disini, karena memang biasanya orang tidak terlalu ngefek dari obat ini).

Tadi, setelah seharian capai berkunjung ke rumah saudara, tetangga dan ke pemakaman desa untuk berdoa, liburan kulanjutkan dengan pulang ke kampung ke rumah mertua dengan aku menjadi sopirnya. Berangkat dari rumah sebelum zuhur tapi tiba disini hampir menjelang magrib, jauh lebih lama dari biasanya. Setelah makan malam, aku coba tidur tiduran dan tanpa sengaja, akupun terlelap. Baru menjelang jam 12 malam aku terbangun, dan tidak bisa tertidur lagi.

Aku heran, apakah jetlag masih menyerangku? Atau pola tidurku sudah berubah sehingga disaat orang lain sedang berlebaran, aku malah tertidur, dan saat orang semuanya terlelap, aku malah melek, tak tahu harus berbuat apa, selain menulis tulisan yang tidak penting-penting sangat ini.

Tangse, 09.08.13
Saat tak bisa tidur malam

Advertisements

5 thoughts on “Kenapa bisa JetLag?

  1. SEpertinya bukan jetlag. Aku juga kayak gitu. udah biasa tidur tengah malam ngerjain tugas. Pas pulang ke Aceh aku malah gak bisa tidur malam hari, tragisnya siang hari bawaannya ngantuk melulu 😀
    Eh, btw, itu dari langsa ke sigli kok lama amir nyampenya ya? Sahur di Langsa kok bisa ya sampe jam 10 di Sigli ya? berarti busnya lambat ya nis 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s